Menu Right

Top Social Icons

Responsive Full Width Ad

IKLAN KOA ADS
Left Sidebar
Left Sidebar
Featured News
Right Sidebar
Right Sidebar

Kamis, 06 Oktober 2016

Memprihatinkan, Sekolah di Lotim Mirip Kandang Kambing

Memprihatinkan, Sekolah di Lotim Mirip Kandang Kambing
LOMBOK TIMUR, SEPUTAR NTB - Sebagai tempat untuk menempa generasi penerus bangsa, sudah selayaknya sekolah memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Namun realitanya masih saja ada sekolah yang jauh dari kata layak. Salah satunya adalah SD-SMP satu atap 4 yang berada di Desa Mekarsari, Suela - Lotim.

Sekolah satu atap ini berdiri sejak tahun 2012. Terletak di tengah ladang warga, sekolah ini hanya menggunakan pelepah daun kelapa sebagai dindingnya, sedangkan atapnya menggunakan terpal. Kondisi sekolah tersebut sangat memprihatinkan, ketika musim penghujan datang maka lokasi belajar mengajar akan mengalami kebanjiran. Dan jika musim kemarau tiba, sengatan panas matahari bisa menembus ke dalam sekolah ini.

Meskipun kondisi sekolah ini jauh dari kata layak, namun orang tua murid tetap bersemangat untuk menyekolahkan anak - anak mereka. Itu semua dilakukan karena para orang tua ingin melihat anak-anak mereka kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Menurut Kepala Sekolah SMP satu atap 4, Muhammad Sobirin, sebenarnya masih ada sekolah lain yang jauh lebih layak dari SD-SMP satu atap ini. Hanya saja untuk menuju sekolah yang lebih layak, para siswa harus menempuh jarak hingga dua kilo meter, selain karena faktor ekonomi. Alasan tersebut menjadikan para orang tua tetap menyekolahkan anak - anak mereka di sekolah satu atap ini.

“Untuk mendapatkan pendidikan yang layak, orang tua siswa/siswi terkendala ekonomi dan jauhnya lokasi sekolah. Mereka harus menempuh perjalanan kaki hingga 2 km baru bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang lebih layak. Hal inilah yang mendorong orang tua murid untuk tetep menyekolahkan anaknya disini. Walau beratapkan terpal dan berdindingkan daun kelapa siswa dan siswi tetap semangat menuntut ilmu. Terkadang kami kasihan sama anak anak belajar ditempat yang tidak selayaknya mereka tempati, tapi mau gimana lagi,” ujar Muhammad Sobirin.

Semangat murid dan orang tersebut membuat hati para guru lebih tergugah. Meskipun hanya mendapatkan honor sebesar Rp. 225.000 pertiga bulan, namun para guru tidak mempermasalahkan gaji tersebut. Karena para guru merasa terpanggil untuk mengabdikan diri bagi generasi penerus bangsa.

“Sampai hari ini saya dan teman teman guru yang lain bertahan di sekolah ini bukan karena apa, tapi karena terpanggil untuk memberikan pengetahuan dan pendidikan yang layak kepada adek-adek kami agak kelak menjadi anak yang dibanggakan oleh Nusa Bangsa dan orang tua pada hususnya. Kalau masalah gaji memang masih jauh, untuk membeli sabun mandi saja tidak cukup. Tapi kami ikhlas untuk kebaikan masa depan adek - adek kami, mungkin disini gaji kami sedikit tapi Insya Allah pasti ada rizki lain yang sudah di siapkan oleh Allah” ujar Susnia Susilawati, salah satu guru honorer yang mengabdi. (Amr/Hd)

Portal Berita Yang Lugas, Terpercaya dan Inovatif dari Nusa Tenggara Barat

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Responsive Full Width Ad

Copyright © 2016 Seputar NTB, powered by Blogger.
close