Menu Right

Top Social Icons

Responsive Full Width Ad

IKLAN KOA ADS
Left Sidebar
Left Sidebar
Featured News
Right Sidebar
Right Sidebar

Rabu, 08 Agustus 2018

Bencana dan Lazimnya Keadaan


Oleh: Mujaddid Muhas, M.A.

Malam baru saja beranjak dari petang. Sunset baru beberapa jenak terbenam dari ranahnya. Minggu malam (5/8), gempa berkekuatan 7,0 skala richter mengguncang lima kecamatan di Kabupaten Lombok Utara, umumnya di Pulau Lombok. Sempat terjadi keadaan riuh gemuruh, tim penyelamat bertungkus lumus, sebagian warga berhamburan, para relawan mengarahkan evakuasi. Sekelumit itu yang terjadi, pun pada saat gempa 6,4 SR yang melanda seminggu sebelumnya (29/7).

Tingkat kerusakan diperkirakan hampir merata pada peristiwa gempa (5/7). Korban jiwa di Lombok Utara saja, hingga saat ditulisnya torehan ini, mencapai 347 orang. Sedangkan kerugian materil, angkanya belum bisa dipastikan. Selain masih fokus pada upaya penyelamatan dan evakuasi korban yang tertindih reruntuhan. Bencana kolosal berkategori bencana nasional ini, lantaran gempa beruntun, berdampak besar dan menelan banyak korban jiwa.

Dari lubuk hati menjeda empati, mengucapkan turut berbela sungkawa terhadap warga terdampak gempa korban jiwa, terhadap keluarga yang ditinggalkan agar tabah, ujian kita semua. Dengan ketenangan dan kesiapsiagaan kita menghadapi cobaan, dapat mempermudah solusi atas kendala dan keadaan yang melanda. Saling bahu membahu, bersatu padu bangkit dari bencana.

Kiranya, sebagai orang yang pernah mengalami langsung gempa Yogyakarta (Sleman, Yogya, Bantul, Wonogiri) pada tanggal 27 Mei 2006. Saat studi disana, menyaksikan (sekaligus beberapa kali turut serta bersama teman-teman kampus) penanganan bencana lazimnya keadaan tanggap darurat. Gempa yang sekejap, kemudian meluluhlantakkan Yogyakarta. Mengingat memori saat itu, sulit membayangkan, pilu kolosal. Betapa luas dan besarnya dampak yang ditimbulkan. Tetapi dalam beberapa waktu kemudian, Yogyakarta bisa bangkit normal kembali, seperti sedia kala.

Bila boleh urun rembug dan mengelaborasi, dalam perspektif awam, skema manajemen penanggulangan bencana dengan membaginya dalam enam fase yaitu sebagai berikut: pertama, Fase Evakuasi. Difokuskan pada korban terdampak gempa, baik yang telah meninggal; yang selamat; maupun evakuasi pengungsi dari berbagai tempat. Prinsipnya menyelamatkan manusia, lebih utama dari segalanya. Upaya penyelamatan terhadap korban yang tertimpa/tertindih bangunan/reruntuhan serta mengevakuasi pengungsi terdampak gempa ke tempat yang lebih aman.

Semisal yang sudah dilakukan tim penanganan bencana tanggap darurat, tim SAR dan gabungan mengevakuasi jamaah Masjid Jabal Nur Dusun Lading Lading Tanjung yang tertindih bangunan/reruntuhan saat menunaikan Sholat Isya Berjamaah hingga kini masih terus berlangsung. Ada pula petugas medis Puskesmas Nipah yang turut serta bersama pasien dan pengungsi ke lereng belakang gedung puskesmasnya. Kemudian, aparat kepolisian yang berhasil mengevakuasi wisatawan dan warga setempat dari Pulau Gili ke daratan.

Kedua, Fase Pengobatan dan Perawatan. Dilakukan persis sesaat setelah adanya bencana, terutama tiap spot pengobatan terdekat dari bencana, puskesmas dan puskesmas pembantu atau spot lainnya. Dalam hal ini, Pemda KLU telah menetapkan halaman RSUD Tanjung sebagai Posko Pengobatan dan Perawatan pasien terdampak gempa. Ada pula bhakti bantuan dari TNI, dalam bentuk Rumah Sakit Lapangan operasional tanggap darurat, sebagai tempat pengobatan dan perawatan yang didirikan di halaman Kantor Bupati dan tim BNPB yang memantau hari ke hari, dipusatkan di Lapangan Tioq Tata Tunaq Tanjung Lombok Utara.

Ketiga, Fase Penyaluran Bantuan Logistik dan Dapur Umum. Penyaluran logistik langsung dan atau penyediaan dapur umum ke sasaran pengungsi ini penting, sebab pengungsi lazimnya tidak membawa bekal. Kalaupun ada, cukup untuk sehari dua hari saja. Termasuk penyediaan sarana Mandi Cuci Kakus (MCK) untuk tiga hari ke depan dan seterusnya, selama berada di pengungsian. Bantuan pokok yang biasanya dibutuhkan berupa tenda, makanan instan, air mineral selimut, pampers, pembalut,  dan toilet portable.

Keempat, Fase Pemulihan Psikis. Pada masa ini, dibutuhkan semacam trauma healing untuk mengendorkan syaraf ketegangan, memulihkan kesadaran normal dan perasaan tenang dan nyaman dalam diri tiap pengungsi. Contohnya melalui peragaan kolektif untuk mengaktifkan indra dan raga melalui mentoring berpengalaman. Ada pula cara yang kerap dilakukan melalui senam kesegaran dan dzikir atau refleksi kerohanian.

Pada fase pertama hingga keempat dapat dilakukan beriringan reguler-stimulan-sinergi. Aktifnya operasional posko yang dibentuk membantu lancarnya penanganan kebencanaan melalui sistem informasi dan komunikasi yang terpadu. Kelima, Fase Konstruksi Sarana Prasarana. Fase ini merupakan masa yang relatif stabil. Diperlukan pengelolaan yang berlandaskan pada validasi serta tindak lanjut solusi yang berkeadilan. Sebaiknya kita menghindari adanya pameo: "'bencana' dalam pengelolaan bencana". Dengan pengelolaan yang terencana dan terpadu, kita bisa bangkit dari keterpurukan, bangkit dan keluar dari krisis kebencanaan.

Keenam, Fase Edukasi dan Pemberdayaan dari Kebencanaan. Fase ini dapat diinisiasi berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. Bagaimana masyarakat dapat lebih siap menghadapi bencana. Lebih siap membangun rumahnya kembali dengan piranti tahan gempa, lebih siap secara psikis bahwa bencana adalah gejala alam yang bisa datang kapan saja dan dimanapun berada. Selain agenda pemberdayaan ekonomi warga terdampak gempa, dari siklus aktivitas dominan "mulai dari nol".

Keadaan-keadaan lazim pada bencana yang melanda, terkadang membuat kita geram, terkadang membuat hati menangis, terisak pilu, dan perasaan haru lainnya yang hinggap pada benak dan pikiran kita. Lepas dari itu semua, ada banyak uluran luhur para filantropi, para aparat, paramedis dan tim kemanusiaan dibalik hari-hari panjang tanggap darurat. Keberadaan pemimpin yang hadir dengan regulasi solutif pada saat krisis, relawan komunal kolektif dan segenap stakeholders penolong dari berbagai pihak, memberikan andil monumental terhadap tolok ukur keberhasilan KLU keluar dari krisis kebencanaan.

Saya, dan (mungkin) kita semua setuju bahwa ada hikmah indah dari setiap bencana yang Tuhan kirimkan kepada kita semua, melalui isyarat alam. Setidaknya, ujian Tuhan sebagai renungan manusia, yang menempati jagad-Nya. Ala Kulli Hal, upaya sungguh-sungguh kita padukan, munajat do'a, kita haturkan dan kepasrahan pada yang Mahakuasa, kita panjatkan. Uluran solusi kita, dibutuhkan. Bangkit dari bencana, untuk kemaslahatan dan kemanusiaan yang universal itu.

Pelaksana Tugas Hubungan Masyarakat dan Protokol Setda KLU

Portal Berita Yang Lugas, Terpercaya dan Inovatif dari Nusa Tenggara Barat

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Responsive Full Width Ad

Copyright © 2016 Seputar NTB, powered by Blogger.
close