Menu Right

Top Social Icons

Responsive Full Width Ad

IKLAN KOA ADS
Left Sidebar
Left Sidebar
Featured News
Right Sidebar
Right Sidebar

Kamis, 30 Agustus 2018

Mi6 Apresiasi Khairudin Mencari Keadilan Lewat DKPP

Mataram - Mi6 mengapresiasi Khairudin M.Ali (calon komisioner Bawaslu Kota Bima) yang menggugat putusan Bawaslu RI lewat Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu ( DKPP).  Hal ini terkait dengan tidak lolosnya Khairudin sebagai anggota Bawaslu Kota Bima, sementara yang bersangkutan dari hasil seleksi oleh Tim Seleksi menduduki peringkat atas. 

Apa yang dialami Khairudin patut diduga ada konflik of interest dalam penetapan anggota Bawaslu Kota Bima. Kejadian yang tidak perlu terjadi jika Bawaslu RI lebih terbuka dan fair dalam menentukan kriteria dan argumentasinya secara transparan kepada  publik terkait lolos dan tidak lolosnya para calon komisioner tersebut. 

Atas hal tersebut, Mi6 mendukung penuh upaya Khairudin mencari keadilan lewat DKPP agar kebijakan penetapan calon Bawaslu Kota Bima dan juga Kabupaten/Kota lainnya se NTB bisa diuji secara yuridis formil materiil yang berkeadilan dan fair. 

Demikian siaran pers Mi6 yang disampaikan ke media terkait sengketa penetapan putusan Bawaslu RI , Kamis ( 30/8).

Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH mengatakan upaya hukum yang dilakukan Khairudin harus diapresiasi dan sebagai bentuk pembenaran hukum yang benar melalui jalur hukum.

Mi6 mensinyalir/menduga Khairudin tidak sendiri yang mengalami hal seperti ini saat seleksi calon anggota Bawaslu Kabupaten Kota Provinsi NTB. Tetapi bisa jadi yang lain enggan mempersoalkannya karena berbagai alasan.

"Sebagai warga negara yang menjunjung tinggi supremasi hukum , apa yang dilakukan oleh Khairudin perlu dimaknai dalam  kerangka menegakkan kedaulatan hukum sekaligus menjaga marwahnya sebagai calon komisioner Bawaslu Kota Bima yang telah ditetapkan oleh Timsel dengan peringkat terbaik," ujar Didu, panggilan akrab Direktur Mi6.

Selain itu tambah Didu, langkah hukum yang ditempuh Khairudin ini untuk menguji secara yuridis atas putusan Bawaslu RI No. 0615/BAWASLU/SJ/HK.01.00/VIII/2018  sudah benar atau tidak di mata hukum. 

Sidang DKPP menurut Didu, adalah sidang etik. Sidang itu akan menguji apakah Ketua dan anggota Bawaslu  melanggar Pasal 3 dan Pasal 134 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, tentang Pemilihan Umum, serta Peraturan DKPP Nomor 2 Tahun 2017 Pasal 5 dan Pasal 6, dalam proses penetapan calon anggota Bawaslu Kabupaten Kota Provinsi NTB.

"Jika dalam sidang di DKPP nanti pihak Khairudin menemukan bukti yang bisa mengoreksi putusan Bawaslu RI , atau ada prosedur serta mekanisme yang dilanggar, maka demi menjunjung asas persamaan di muka hukum, Bawaslu RI harus berani mengubah putusannya demi menghormati supremasi hukum," tambah Dir M16

Mi6 menyadari akibat preseden ini, publik di Kota Bima juga Tim Seleksi, tentu mengatensi hasil akhir putusan DKPP nanti. Karena kejadian ini diduga ada  ketidak fairan Bawaslu RI dalam memutuskan calon komisionernya sekaligus patut diduga tidak menghargai upaya maksimal dari Timsel dalam menentukan proses di awal proses seleksi calon komisioner Bawaslu kota Bima . 

"Kejadian yang menimpa Khairudin jika dibiarkan berlarut larut akan merusak kredibilitas dan kapabilitas Bawaslu sebagai penyelenggara Pemilu di mata publik, khusus warga Bima dan NTB," pungkasnya.

Sementara itu khabarnya Khaerudin sudah mengajukan surat  permohonan informasi publik kepada Bawaslu NTB terkait hasil seleksi dan seluruhnya.


Editor : Bayu

Portal Berita Yang Lugas, Terpercaya dan Inovatif dari Nusa Tenggara Barat

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Responsive Full Width Ad

Copyright © 2016 Seputar NTB, powered by Blogger.
close