Menu Right

Top Social Icons

Responsive Full Width Ad

IKLAN KOA ADS
Left Sidebar
Left Sidebar
Featured News
Right Sidebar
Right Sidebar

Minggu, 16 September 2018

Anggota DPRD Golkar Kena OTT Dana Bantuan Gempa Lombok

H Muhir Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram yang juga politisi Partai Golkar ini ditangkap bersama barang bukti uang tunai Rp 30 juta
Mataram - Anggota DPRD Kota Mataram H Muhir tertangkap tangan. Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram yang juga politisi Partai Golkar ini ditangkap bersama barang bukti uang tunai Rp 30 juta. Uang itu terkait pembahasan anggaran di APBD-Perubahan 2018, untuk rehabilitasi dan rekonstruksi SD dan SMP yang rusak akibat gempa.

Namun, kejaksaan menyebut kasus ini bukan suap menyuap. Melainkan permintaan uang yang disertai pemerasan yang berhubungan dengan pembahasan anggaran di APBD-P.

Sumber Seputar NTB di Kejari Mataram yang terlibat dalam operasi penangkapan ini menyebutkan, saat transaksi penyerahan uang, H Muhir membawa dua anaknya. Seorang masih berusia lima tahun. Anggota DPRD dari Daerah Pemilihan Selaparang ini pun ditangkap di hadapan buah hatinya.

Nilai anggaran untuk rehabilitasi bangunan SD dan SMP tersebut sebesar Rp 4,2 miliar. Dengan modus memuluskan alokasi anggaran tersebut, Muhir meminta uang kepada Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram H Sudenom.

Permintaan uang yang disertai dengan pemerasan ini, sebagai kontribusi agar anggaran bantuan gempa untuk sekolah, tidak gagal dalam pembahasannya.

Jaksa intelijen rupanya mendapat informasi mengenai dugaan tindak pidana tersebut. Kepala Kejaksaan Negeri Mataram Ketut Sumedana menyebut, pihaknya langsung membentuk tim dan bergerak melakukan pemantauan. Upaya tangkap tangan dimulai pada Kamis malam (14/9). Bertempat di salah satu rumah makan di wilayah Monjok. Di lokasi tersebut, Muhir diketahui baru menerima uang sebanyak Rp 1 juta.

”Kemarin (Kamis, Red) tidak jadi kita OTT. Bukan dilepas, tapi ada kendala teknis. Meski demikian, tetap kita pantau,” kata Sumedana, kemarin (14/9).

Sehari setelahnya atau kemarin, tim mendengar bahwa Muhir dan Sudenom kembali bertemu. Pertemuan dilakukan di salah satu warung makan, di Jalan Rajawali, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Saat itu, Muhir datang bersama dua anaknya. Dia mengendarai sepeda motor matic berbody besar.

Di dalam warung makan, terjadi transaksi penyerahan uang sebanyak Rp 30 juta. Uang diserahkan Kadisdik Sudenom dan kontraktor bernama Totok.

Setelah penyerahan uang, tim bergerak dan mengamankan ketiga orang tersebut. Ketika tim masuk, Muhir yang sudah memegang uang, sempat membuang barang bukti tersebut. Dia melempar uang kepada Totok dengan maksud untuk disembunyikan.

”Ini sudah kita intai satu bulan. Informasinya yang bersangkutan sering minta jatah-jatah proyek,” beber Sumedana, mantan Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini.

Rangkaian pemerasan berawal dari Muhir. Dia meminta uang kepada Sudenom terkait pembahasan bantuan bencana gempa. Tetapi, karena tidak memiliki uang, Sudenom meminta kontraktor untuk menyediakan uang.

Modusnya, Muhir menelepon Sudenom. Dia mengklaim telah memuluskan proyek rehabilitasi sejumlah sekolah akibat gempa. Berbicara di telepon, Muhir menyampaikan ke Sudenom kalau dirinya sudah meloloskan proyek Rp 4 miliar di APBD Perubahan.

“Tolong dong carikan kontraktor untuk bagi-bagi kepada teman-teman,” begitu permintaan Muhir ke Kadis Sudenom seperti diungkapkan Kajari Mataram Sumedana.

”Ini sama dengan pemerasan,” tegas Sumedana lagi.

Setelah penangkapan, Muhir, Sudenom, dan Totok dibawa ke Kejari Mataram. Mereka menjalani pemeriksaan sekitar delapan jam. Dari pukul 09.30 Wita hingga pukul 17.30 Wita.

Kedatangan ketiganya dikawal ketat petugas kejaksaan. Operasi tangkap tangan (OTT) kemarin juga dibantu anggota dari Polres Mataram. Saat dibawa, petugas memborgol tangan Sudenom, Muhir, dan Totok.

Selama pemeriksaan, Muhir menjawab sekitar 30 pertanyaan. Untuk pemeriksaan awal, penyidik hanya menanyakan aktivitas yang bersangkutan.

”Belum sampai pada pemeriksaan bukti-bukti. Nanti ini kan akan berlanjut terus, kita dalami,” beber dia.

Usai pemeriksaan, penyidik menetapkan Muhir sebagai tersangka. Dia dijerat Pasal 12 huruf e Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sementara dua orang lainnya, Sudenom dan Totok, berstatus saksi.

”Satu tersangka, H Muhir. Sudenom dan kontraktornya itu saksi,” ungkap Sumedana.

Setelah menjadi tersangka, penyidik juga memutuskan untuk menahan Muhir. Sekitar pukul 18.00 Wita, Muhir digiring menuju mobil Avanza hitam. Sekitar tiga petugas jaksa dan kepolisian terlihat mengawalnya.

Muhir yang mengenakan masker dan rompi tahanan memilih bungkam ketika ditanya awak media. Dia hanya menggelengkan kepalanya atas beberapa pertanyaan yang diajukan wartawan.Sumedana mengatakan, tersangka dititipkan di Lapas Mataram selama 20 hari. Selama rentang waktu itu, jaksa akan melakukan upaya penyidikan lebih intensif.

”Kita tahan untuk kepentingan pemeriksaan dan penyidikan,” ucap dia.

”Karena ini berkaitan dengan bencana alam, kita prioritaskan untuk melakukan OTT,” terang Sumedana.

Editor : Bayu

Portal Berita Yang Lugas, Terpercaya dan Inovatif dari Nusa Tenggara Barat

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Responsive Full Width Ad

Copyright © 2016 Seputar NTB, powered by Blogger.
close