Menu Right

Top Social Icons

Responsive Full Width Ad

IKLAN KOA ADS
Left Sidebar
Left Sidebar
Featured News
Right Sidebar
Right Sidebar

Minggu, 16 September 2018

Investor Pagari Kawat Berduri Lahan Tampah Boleq, Warga Geram

Kondisi lahan Tampah Boleq yang dipasangkan kawat berduri oleh investor PT Temada Pumas Abadi
Lombok Timur - Meluasnya lokasi pemagaran kawasan Tampah Boleq yang dilakukan pihak perusahaan PT Temada Pumas Abadi membuat Warga Desa Srewe, Kecamatan Jerowaru mengaku geram. Apalagi saat ini warga masih mengklaim kalau lahan yang dipagari dengan menggunakan kawat berduri keliling tersebut merupakan tanah ulayat atau adat.

"Kami selaku warga tidak terima dengan sikap pihak investor yang melakukan pemagaran lahan Tampah Boleq dengan kawat berduri, sehingga warga kehilangan akses untuk keluar masuk," kata Herman, Warga Srewe kepada media ini.

Ia menuturkan kegiatan pemagaran dengan menggunakan kawat berduri dan tiang beton tersebut.Dilakukan sebelum kegiatan bau Nyale 2018 sekitar bulan Februari lalu. Dengan hanya sebagian lahan saja.

Kemudian pada saat kegiatan itu warga yang datang menyaksikan kegiatan bau Nyale melakukan pengrusakan pagar beton maupun berugak milik investor. Bahkan tidak itu saja papan plang perusahaan juga ikut dirusak warga.

"Meski warga tetap melakukan penolakan terhadap aktivitas perusahaan,namun tetap memperluas lokasi pemagarannya sampai ke utara, sehingga menyebabkan akses untuk masyarakat tidak ada," ujarnya.

Sementara itu,lanjutnya, warga menginginkan agar pagar berduri yang dipasang perusahaan itu segera dibongkar. Agar kondisi Tampah Boleq sebagai tempat lokasi bau Nyale setiap tahunnya bisa dilaksanakan oleh masyarakat.

"Bagaimana bau Nyale akan bisa dilaksanakan nantinya kalau semua lokasi Tampah Boleq dipasangkan kawat berduri, sambil berharap agar Bupati terpilih pak Sukiman segera kembalikan Tampah Boleq menjadi tanah ulayat," pinta warga Selatan lainnya.

‎Sementara Kades Srewe,Hudayana mengatakan sangat menyayangkan dengan sikap dari investor yang melakukan pemagaran lahan Tampah Boleq tanah ulayat yang dilakukan pihak investor. Sehingga dampaknya masyarakat tidak lagi bisa leluasa untuk menikmati kawasan pantai Kaliantan,karena akses ditutup dengan kawat berduri.

Selain itu pihak perusahaan juga tidak pernah melakukan koordinasi dengan komunikasi dengan pemerintah desa. Sehingga terkesan berjalan sendiri-sendiri.

"Kami menduga ada oknum-oknum yang menjual dengan mengatasnamakan masyarakat untuk mencari kepentingan pribadi didalamnya," tegasnya.

Selain itu, lanjut Kades Srewe, masyarakat menginginkan agar batas 100 meter dari sempadan pantai bisa dijalankan oleh investor. Namun dalam kenyataan di lapangan justru investor memagari sampai dengan pantainya.

Bahkan pihak investor itu juga justru malah menyewakan kepada investor lainnya sebagai tempat para wisatawan melakukan kegiatan. Tanpa adanya kontribusi kepada pemerintah desa setempat.

"Kami menaruh harapan besar kepada Bupati Lotim terpilih untuk kembalikan Tampah Boleq menjadi tanah ulayat,tanpa dikuasai investor seperti saat ini," tegas Hudayana.

Namun begitu, tambah Hudayana, dirinya masih baru menjadi Kades,sehingga tentunya belum mengetahui persoalan yang sebenarnya. Begitu juga masyarakat yang mengadu mengenai lahan Tampah Boleq itu belum ada,sehingga tentunya tidak bisa kita tindaklanjuti.

"Kalau ada warga yang melapor tentunya kami akan tindaklanjuti sesuai aturan yang ada," tandasnya.

Hal yang sama dikatakan tokoh masyarakat Selatan, Arsa Ali Umar menegaskan pihaknya bersama warga selatan lainnya akan terus memperjuangkan agar lahan Tampah Boleq yang saat ini dikuasi investor bisa kepada posisi semua menjadi tanah ulayat harus berjuang dan bergerak bersama-sama untuk satu tujuan kembalikan Tampah Boleq dari tangan investor menjadi ulayat.

Apalagi Bupati terpilih H.Sukiman Azmy saat menjabat Bupati sebelumnya mengatakan saat pelaksaan bau Nyale di Tampah Boleq Kaliantan. Dengan tegasnya tidak boleh ada perusahaan,kelompok maupun perorangan yang berhak memiliki atau mensertifikatkan lahan Tampah boleq,karena merupakan tanah ulayat atau adat yang harus di lestarikan dan jaga.

"Setelah pelantikan Bupati dan wakil bupati Lotim terpilih baru kami akan bergerak lagi untuk memperjuangkan Tampah Boleq menjadi tanah ulayat dan itu harga mati," tegas Arsa Ali Umar.

Sementara sampai berita ini diturunkan pihak perusahaan PT Temada Pumas Abadi belum bisa dikonfirmasi meski telah berusaha untuk mencari ke lokasi Tampah Boleq namun tidak ada.

"Sudah lima hari penanggung jawab lokasi lahan Tampah Boleq yang dikuasai perusahaan ini tidak datang," kata warga sekitarnya.

Editor : Bayu

Portal Berita Yang Lugas, Terpercaya dan Inovatif dari Nusa Tenggara Barat

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Responsive Full Width Ad

Copyright © 2016 Seputar NTB, powered by Blogger.
close