Menu Right

Top Social Icons

Responsive Full Width Ad

IKLAN KOA ADS
Left Sidebar
Left Sidebar
Featured News
Right Sidebar
Right Sidebar

Rabu, 03 Oktober 2018

PLN NTB akan Hentikan Penggunaan Solar pada 2019

Komisi VI DPR RI meninjau perkembangan pembangunan PLTGU Lombok Peaker di Mataram, NTB
Mataram - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Nusa Tenggara Barat akan menghentikan penggunaan bahan bakar minyak jenis solar untuk menghasilkan energi listrik mulai tahun 2019 demi mengurangi biaya produksi.

Deputi Manajer Hukum dan Humas PLN Wilayah NTB Fitriah Adriana mengatakan, upaya penghentian penggunaan solar atau disebut "high speed diesel" (HSD) tersebut seiring pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Lombok Peaker berkapasitas 150 megaWatt (MW) mulai semester I 2019.

"Insya Allah tidak ada penggunaan solar sebagai bahan bakar utama karena harganya relatif mahal dibandingkan jenis bahan bakar lain," katanya.

Ia menyatakan persentase penggunaan solar untuk memproduksi energi listrik sebesar 27,23 persen. Ada juga pembangkit yang menggunakan bahan bakar batu bara dengan persentase 27,56 persen dan bahan bakar minyak MFO (marine full oil) sebesar 44,51 persen.

"Penggunaan solar sebesar 27,23 persen karena belum semua PLTU beroperasi optimal," ujarnya.

Saat ini, kata Fitriah, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Tanjung Karang dan Taman di Kota Mataram, serta PLTD Paok Motong di Kabupaten Lombok Timur, yang menggunakan solar dengan harga industri atau non subsidi, lebih diutamakan beroperasi saat beban puncak.

Grafik penggunaan listrik oleh masyarakat di NTB naik pada saat beban puncak dari pukul 18.00-22.00 WITA.

"Nanti PLTGU Lombok Peaker yang dibangun di Kota Mataram, akan menggantikan peran PLTD pada saat beban puncak di malam hari," ucapnya pula.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara, kata Fitriah, PLN tetap diminta oleh pemerintah untuk menekan biaya produksi dengan cara mengoperasikan pembangkit-pembangkit berbahan bakar lebih murah.

Selain Lombok PLTGU Lombok Peaker, beberapa pembangkit yang tidak menggunakan solar sudah dibangun oleh PLN. Di antaranya, PLTU jeranjang 3 X 25 MW, namun baru dua unit sudah beroperasi menggunakan bahan bakar batu bara.

Selain itu, PLTU di Sambelia, Kabupaten Lombok Timur berkapasitas 2 X 25 MW, dan PLTU Taliwang di Kabupaten Sumbawa Barat berkapasitas 2 X 7 MW yang segera masuk sistem kelistrikan Sumbawa.

Ia menambahkan produksi listrik dari energi baru terbarukan juga terus dikembangkan, seperti pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) yang memanfaatkan potensi sumber daya air.

Pihaknya juga memprogramkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang tersebar di beberapa kabupaten di NTB.

"Jadi dengan beberapa pembangkit tidak berbahan bakar solar, kami berharap bauran energi semakin besar. Termasuk penggunaan MFO juga akan dihentikan bertahap," kata Fitriah.


Editor : Bayu

Portal Berita Yang Lugas, Terpercaya dan Inovatif dari Nusa Tenggara Barat

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Responsive Full Width Ad

Copyright © 2016 Seputar NTB, powered by Blogger.
close