Header Ads

  • Breaking News

    2016, BWS NT I Kecipratan Rp 1 Triliun Lebih

    2016, BWS NT I Kecipratan Rp 1 Triliun Lebih
    MATARAM, SEPUTAR NTB - Tahun 2016 ini, Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I kecipratan anggaran Rp 1.007.369.690.000.- Angka itu meningkat drastis dari yang didapat tahun 2015 lalu, yakni Rp 662.048.821.000.-.

    Kepala BWS NT I, Ir Asdin Julaidy MM, MT mengatakan anggaran yang meningkat drastis itu akan dialokasikan kelima tempat, diantaranya untuk Satker BWS mendapatkan Rp 97.283.334.000, Satker PJPA mendapatkan Rp 189.517.040.000, Satker PJSA Rp 143.718.570.000, Satker Bendungan Rp 482.071.666.000 dan Satker OP Rp 94.779.080.000.

    Asdin Julaidy menjelaskan anggaran itu benar-benar akan dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Untuk pembangunan embung misalnya, jika tahun 2015 lalu banyak dibangun di Lombok bagian selatan maka untuk tahun 2016 akan merata namun lebih fokus ke Pulau Sumbawa. ‘’Kita harapkan nantinya setiap embung akan bisa mengairi antara 10 hingga 20 hektare lahan,’’ harapnya.

    Selain itu menurut Asdin Julaidy, dari pembangunan embung itu masyarakat juga bisa memanfaatkan untuk minum dan untuk kebutuhan ternak masyarakat serta bisa juga dikelola untuk irigasi mereka. ‘’Kami berharap masyarakat bisa benar-benar memanfaatkan program BWS tahun 2016 ini karena ini bagian dari program pemerintah dan tujuan dari Nawacita yang menjadi tujuan Presiden Joko Widodo,’’ katanya.

    Asdin Julaidy juga berjanji tahun 2016 program BWS NT I akan berjalan lancar, karena ia menjanjikan 100 persen desain untuk program BWS NT I ada peningkatan. ‘’Memang, awalnya program sedikit terhambat dikarenakan persiapan desain yang kami miliki cukup minim. Dan, bagaimanapun program itu memang tidak bisa berjalan jika desain yang tersedia sangat minim, sementara program BWS itu sebenarnya sangat banyak,’’ ungkapnya.

    Sementara itu, Kepala Pusat Air Tanah dan Air Baku, Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Ir H Dwi Sugiyanto MM, mengatakan bahwa NTB termasuk penyandang pangan keenam nasional. Dan, untuk ketahanan air juga NTB diposisikan sebagai salah satu yang terbaik dari 33 propinsi se Indonesia. Itulah mengapa tahun 2016 ini, NTB mendapatkan anggaran cukup besar untuk membangun banyak embung guna menjaga ketahanan pangan.

    Secara nasional, Dwi Sugiyanto mengungkapkan alih fungsi lahan cukup tinggi di Indonesia, termasuk NTB. Sementara di wilayah timur dimana NTB berada air tanah sangat dominan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. ‘’Namun NTB sangat beruntung, NTB memiliki 12 bendungan besar, terbanyak di Indonesia. Karena itu saya berharap pengelola atau pemanfaat dari waduk ini agar betul-betul memanfaatkan secara optimal untuk ketahanan pangan,’’ jelasnya.

    Pada tahun 2016 ini, BWS NT I ingin menunjukkan sebuah kualitas. Itu terlihat dari tujuan dan sasaran BWS NT I tahun ini, yakni meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan infrastruktur bidang SDA bagi terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan, meningkatkan keandalan system (jaringan) infrastruktur bidang SDA untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, ketahanan pangan dan daya saing.

    Tujuan lain adalah meningkatkan pembangunan kawasan strategis, wilayah tertinggal dan perbatasan dan penanganan kawasan rawan bencana untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah. Satu tujuan lagi yakni mengoptimalisasi peran dan akuntabilitas kinerja aparatur untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan publik  infrastruktur bidang SDA.

    Dari pada itu, BWS Nusa Tenggara I juga memiliki sasaran, diantaranya  meningkatkan layanan sarana dan prasarana penyediaan air baku, meningkatkan keberlanjutan dan ketersediaan air baku yang memadai guna pemenuhan berbagai kebutuhan baik untuk kebutuhan  air baku untuk air minum maupun kebutuhan pertanian dalam rangka mempertahankan swasembada pangan serta kebutuhan sektor-sektor untuk meningkatkan produktifitas sektor industry, meningkatkan kapasitas tamping sumber-sumber air, meningkatkan kapasitas pengendalian daya rusak air, meningkatkan kualitas  pengendalian banjir secara terpadu dari hulu ke hilir dalam satu wilayah sungai dan perlindungan kawasan di sepanjang garis pantai dari bahaya abrasi dan meningkatkan upaya konservasi sumber daya air.

    Untuk kegiatan tahun 2016, BWS Nusa Tenggara I sudah memetakan antara kegiatan fisik dan non-fisik (belanja pegawai dan lain-lain). Untuk kegiatan fisik yang menyangkut konservasi, pengendalian banjir, lahar gunung berapi dan pengamanan pantai, BWS Nusa Tenggara I akan melakukan normalisasi alur sungai di Pulau Lombok sepanjang 7 Km dan Pulau Sumbawa sepanjang 15 Km, pembangunan drainase kota (Lombok dan Sumbawa sepanjang 7 Km dan 0,20 Km), rehabilitasi perkuatan tebing sungai (Lombok dan Sumbawa sepanjang 0,20 Km) dan rehabilitasi dan peningkatan groin muara sungai  di Pulau Lombok sepanjang 0,10 Km.

    Sedangkan untuk kegiatan yang menyangkut  waduk, embung, situ serta bangunan penampung air lainnya, BWS Nusa Tenggara I akan melakukan pembangunan embung di Pulau Lombok dan Sumbawa sebanyak dua buah, pembangunan embung rakyat serbaguna di Lombok sebanyak 78 buah dan Sumbawa 25 buah, embung serba guna khusus di Lombok sebanyak 10 buah, rehabilitasi embung serba guna di Lombok satu buah, pembangunan bending pengalih dan saluran interbasin bendungan Tanju dan Mila Rababaka Komplek di Sumbawa sebanyak dua buah, pembangunan  bendungan utama Bintang Bano satu buah, pembangunan spillway bendungan utama Bintang Bano dan pembangunan bendungan Tanju dan Mila sebanyak dua buah.

    Terakhir, untuk kegiatan yang menyangkut pengelolaan air tanah dan air baku, BWS Nusa Tenggara I akan melakukan konstruksi sumur air tanah untuk air baku di delapan titik, masing-masing diantaranya Lombok dilakukan pada enam titik dan Sumbawa dua titik.

    Sedangkan pembangunan konstruksi embung rakyat untuk air baku akan dibangun 50 buah, dimana masing-masing akan dibangun 25 buah di Lombok dan 25 buah di Sumbawa. Untuk konstruksi saluran pembawa air akan dibuat sepanjang 34 Km, dimana Lombok mendapatkan 22 Km dan Sumbawa 12 Km, konstruksi sumur JIAT dibangun di 17 titik (Lombok 11 titik dan Sumbawa 6 titik) dan ditambah kegiatan lainnya seperti konstruksi embung untuk air baku yang direhabilitasi, konstruksi jaringan irigasi air tanah yang direhabilitasi, rehabilitasi JIAT dan prasarana pendukung. (By)

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad