Header Ads

  • Breaking News

    Guide di Lombok Diminta Professional

    Guide di Lombok Diminta Professional
    MATARAM, SEPUTAR NTB - Para guide di NTB, khususnya di Lombok mendapat teguran halus dari Gubernur NTB, TGH Zainul Majdi. Kata Gubernur, guide adalah duta promosi untuk pariwisata daerah. Itu tidak dapat dipungkiri. Jadi, baik atau buruknya citra daerah, secara tidak langsung jadi tanggung jawab guide yang bersentuhan langsung dengan wisatawan.

    Dijelaskan Gubernur, semua pihak punya kewajiban yang sama, untuk terus mempromosikann Lombok dan Sumbawa. Namun, tetap saja pariwisata “seeing is believing”. Artinya, sebaik apapun promosi yang telah dilakukan jika tidak dibarengi dengan kondisi realita di lapangan, tentu tidak akan ada gunanya. ‘’Jadi, jangan sampai kondisi itu membuat wisatawan enggan datang kembali ke lokasi wisata di NTB,’’ pesan Gubernur.

    Apa yang disampaikan Gubernur tentang tugas guide tersebut, sebagai jawaban atas kunjungan Pengurus Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) NTB kepada Gubernur, beberapa waktu lalu. Kunjungan HPI NTB itu dipimpin langsung ketuanya, Ainudin.

    Dihadapan Gubernur NTB, Ainudin memaparkan berbagai kiprah yang telah ditempuh HPI sebagai bentuk dukungannya terhadap upaya mengembangkan sektor pariwisata di NTB. “Berbagai program kami jalankan, salah satunya program bersih pantai diberbagai daerah wisata, bekerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota,” ungkapnya. 

    Kepada Gubernur, Ainudin menyampaikan, kemajuan sektor pariwisata di NTB saat ini, menuntut peningkatan kualitas SDM pramuwisata yang ada. Ia menyebutkan saat ini jumlah keanggotaan HPI berkisar 700 orang, tersebar di seluruh wilayah kabupaten/kota se Nusa Tenggara Barat, dengan penguasaan berbagai bahasa, diantaranya China, Inggris, Arab, Jerman, Korea dan Spanyol.

    Namun demikian jumlah dan keterampilan yang dimiliki tentu belum cukup menjadi modal dalam memberikan palayanan bagi wisatawan yang berkunjung ke NTB, terlebih dengan predikat daerah wisata halal yang disandang NTB, berdampak terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asing dari timur tengah ke NTB.

    Diakuinya, jumlah pramuwisata yang menguasai bahasa Arab dan China hingga kini jumlahnya sangat minim. Persoalan lain yang juga diungkap adalah tentang adanya pramuwisata illegal di destinasi wisata yang justru seringkali merugikan wisatawan. Untuk itu, pihaknya berharap rancangan peraturan gubernur tentang pramuwisata yang isinya mengatur tentang bagaimana tata cara menjadi pramuwisata yang beretika dan memberikan pelayanan dengan baik kepada wisatawan, bisa segera disahkan dengan harapan keberadaan aturan itu akan meminimalisir jumlah pemandu wisata illegal.

    Jika melihat realita yang ada, di NTB, dengan pariwisata sebagai sektor utama dan prioritas, jika dilihat dari segi kemanfaatannya bagi masyarakat, tugas pemerintah provinsi hanya sebatas menyediakan sarana prasarana serta infrastruktur penunjang kepariwisataan di daerah. Di lapangan, ketika wisatawan datang maka yang selanjutnya punya tanggung jawab adalah para pelaku pariwisata, mulai dari pihak bandara hingga pramuwisata di tingkat tekhnis.

    Faktor kebersihan di daerah wisata juga tidak luput dari perhatian Gubernur. Untuk itu, orang nomer satu NTB ini sangat mendukung berbagai program yang telah dijalankan HPI, seperti bersih daerah wisata. ‘’Saya berharap program tersebut terus dilanjutkan. Karena bagaimanapun, pariwisata itu adalah satu kesatuan utuh, yang butuh dukungan, sinergi dan tanggung jawab semua pihak untuk keberhasilannya, mulai dari pemerintah hingga tatanan masyarakat. Menjaga kebersihan itu benar-benar menjadi point penting bagi saya. Jangan sampai destinasi yang indah, menjadi berkurang nilai keindahannya karena dipenuhi sampah. Ini salah satu hal yang harus menjadi atensi kita bersama,’’ tegas Gubernur.

    Gubernur pun berpesan kepada anggota HPI agar senantiasa bekerja secara professional, dengan menawarkan jasa dengan baik, mengguide dengan baik. “HPI saya harap dapat menjadi wadah yang menaungi para pramuwisata, untuk menjadi guide yang professional. Berikan rasa nyaman lahir bathin bagi wisatawan. Jangan sampai wisatawan ada yang merasa terintimidasi dan tidak nyaman dalam berwisata. Jika rasa nyaman sudah tercipta, hampir dapat dipastikan wisatawan itu akan kembali mengunjungi daerah kita, atau paling tidak akan membawa cerita positif ke negaranya tentang NTB,” ujar Gubernur optimis. (By)

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad