Header Ads

  • Breaking News

    Hadapi PON XIX, KONI NTB Disanguni Rp 22 Miliar

    Hadapi PON XIX, KONI NTB Disanguni Rp 22 Miliar
    MATARAM, SEPUTAR NTB - PON XIX dipastikan akan diikuti sekitar 8.403 atlet. Berdasarkan data yang dikeluarkan PB PON, jumlah 8.403 itu belum termasuk ratusan atlet tuan rumah, Provinsi Jawa Barat. Pun begitu, jumlah atlet yang diperkirakan mendekati angka sepuluh ribu itu akan berlomba untuk menjadi yang pertama merebut 755 keping emas yang sudah disiapkan. Rinciannya, PON XIX menyediakan 755 medali emas, 755 medali perak dan 962 medali perunggu.

    Dari 34 provinsi peserta PON XIX, kekuatan atlet NTB, mungkin, termasuk yang paling sedikit. Yakni, 111 atlet. Jumlah 111 atlet NTB ini akan berlaga pada 23 cabang olahraga. Jika merujuk pada hasil PON XVIII empat tahun lalu di Riau, andalan NTB meraup medali emas tetap bertumpu pada cabor atletik, pencak silat, voli pantai, tarung drajat dan tinju. Lima cabor andalan ini akan ditopang oleh cabor potensial seperti menembak, kempo, BMX dan dansa.

    Empat tahun silam, pada PON XVIII, kontingen NTB sukses mencetak sejarah baru dengan raihan 11 emas, 7 perak dan 4 perunggu. Torehan sebelas medali emas didapat dari cabor atletik (6 emas), pencak silat (2 emas), tinju (1 emas), voli pantai (1 emas) dan tarung drajat (1 emas). 

    Menjadi catatan, ketika PON XVIII empat tahun lalu, kekuatan kontingen NTB adalah 120 atlet. Ketika itu, kontingen NTB yang dikomando H Kasdiono mengikuti 18 cabor. Prestasi besar itu sukses mendongkrak peringkat NTB ke urutan 12 dari sebelumnya urutan 25 di PON XVII.

    Dua baris lagi, nyaris masuk 10 besar. Memang, dengan torehan 11 emas tidak mampu menempatkan NTB pada posisi 10 besar nasional. Namun, melihat dari sudut manapun, capaian atlet NTB pada PON XVIII sangat luar biasa. Kualitas yang ditunjukkan NTB pada event nasional sekali empat tahun itu menuai pujian secara nasional.

    Bandingkan dengan hasil PON XVII yang hanya menghasilkan 3 emas, 3 perak dan 9 perunggu dan menempatkan NTB pada posisi 25 nasional. Di PON XVIII, capaian NTB melonjak 300 persen. PON XVII adalah perbandingan. Begitu pula PON VIII. Kedua PON terakhir sudah cukup dijadikan perbandingan, dari sejarah masa lalu yang suram, menuju era baru dengan sejarah baru.

    Ketika KONI NTB era H Kasdiono memulai membangun prestasi olahraga NTB dengan cara berbeda dari pendahulunya, dan terbukti sukses. Tentunya pondasi itu harus dijaga dan terus diasah. Tidak hanya oleh H Andy Hadianto, tetapi juga oleh Ketum-ketum KONI NTB berikutnya.

    Tahun 2016, pada dua tahun kepemimpinan Andy Hadianto sebagai Ketum KONI NTB, ia mendapatkan kucuran dana Rp 22 Miliar. Mungkin, oleh sebagian pihak anggaran Rp 22 Miliar yang diberikan Pemprov untuk dikelola KONI dinilai sangat besar. Ya. Itu sah-sah saja, jika yang menilai adalah para pihak yang tidak mengerti bagaimana susahnya membangun prestasi daerah di bidang olahraga. Tetapi, jika melihat jumlah APBD NTB tahun 2016 yang sebesar Rp 3.576.520.815.258, sepertinya semua pihak mesti ikhlas angka Rp 22 Miliar itu diberikan kepada KONI.

    Ataukah ada yang bertanya, ‘’Rp 22 Miliar untuk membeli 15 emas PON XIX?’’. Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Tergantung kemana harus didefinisikan. Yang pasti, ketika pemerintah berani mengalokasikan dana besar itu untuk KONI, berarti pemerintah sadar bahwa untuk mewujudkan target 15 emas PON XVIII butuh persiapan besar dan terprogram. Dan, untuk melakukan itu tentu dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Soal bagaimana cara kerjanya dan bagaimana hasilnya, H Andy Hadianto selaku Ketum KONI NTB harus membuktikannya di PON Jawa Barat, pertengahan September mendatang. Andy pasti sadar, gagal di PON XIX akan membuat dia bakal dikritik banyak orang. (Pur)

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad