Header Ads

  • Breaking News

    HUT Polwan Bima Taklukan Tambora

    HUT Polwan Bima Taklukan Tambora
    BIMA, SEPUTAR NTB - Membawa misi pelestarian alam dan lingkungan di Kabupaten Bima, puluhan Polisi Wanita yang tergabung dalam kesatuan Polisi Wanita polres Bima, minggu pekan lalu melakukan jelajah alam bertemakan  “ekspedisi takluk gunung Tambora, yang merupakan salah satu gunung  aktif ikon pariwisata NTB milik provinsi Nusa Tenggara Barat yang  ada tahun 2015  lalu dinobatkan sebagai kawasan taman nasional gunung tambora oleh presiden Joko Widodo.

    Dengan persiapan sekedarnya, regu takluk tambora dari polres Bima terdiri dari 14 orang polwan, 12 orang polisi laki laki dan 5 orang mahasiswa pencinta alam, berangkat dari kantor Mapolres Bima,  dan memulai titik start dari Desa Oi Bura Kecamatan Tambora menuju ke post lima yang berada di kawasan lereng Tambora. Dari desa ini para Polwan harus menempuh perjalanan sejauh puluhan kilometer menuju post lima yang berada di lereng tambora.

    Usai berisitirahat di post lima, para Polwan tangguh ini selanjutnya melanjtkan perjalanan sekitar lima jam perjalanan melalui hutan pegunungan dan tebing terjal menuju puncak Tambora salah satu gunung tertinggi di wilayah Indonesia timur,  yang berada di ketinggian 2.800 meter dari atas permukaan laut tersebut (mdpl).

    Lebatnya hutan hindung dan terjalnya lereng pegunungan yang harus ditempuh hampir dua hari perjalanan terbayar lunas setelah para Polwan dari polres Bima sampai di puncak Tambora dengan hamparan panorama puncak yang eksotis,  ditambah dengan bentangan kaldera khas gunung berapi yang terbentuk secara alami.

    Sebagai tradisi wajib para perwira, tim takluk tambora polri ini pun menancapkan bendera merah putih tepat  di puncak tambora, diringi lagu Indonesia raya dan hormat bendera sebagai simbol cinta tanah air dan menyatakan bahwa Tambora telah sukses mereka taklukkan.

    Dari ketinggian 2.800 meter dari atas permukaan laut, tim takluk tambora polwan polres Bima pun berfoto dan mengucapkan selamat HUT  Polwan ke 68, sekaligus menitipkan pesan cinta tanah air dan ajakan peduli lingkungan kepada seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat.

    Kapolres Bima AKBP Gatot Kurniadin melalui Wakapolres Bima Kompol Arif Harsono, SH, Sik membenarkan rangkaian ekpesidis regu takluk Tambora yang dilakukan oleh para polwan dengan mendaki gunung Tambora sebagai momentum peringatan hari HUT Polwan dan juga membawa pesan moral untuk melestarikan lingkungan kepada warga NTB. “ Momen ini selain sebagai rangkaian peringatan HUT polwan ke 68, pendakian Tambora sekaligus mengajak semua pihak terlibat untuk melestarikan alam dan lingkungan agar tetap lestari” ujar nya.

    “Di sisi lain ekpedisi Tambora ini merupakan yang pertama dilakukan para polwan di NTB bahkan di Indonesia, sebagai  wujud partisipasi mempromosikan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Bima yakni gunung Tambora yang kini telah diresmikan menjadi kawasan Taman Nasional tambora oleh presiden” pungkas arief.

    Sekilas Gunung Tambora
    Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 8°15' LS dan 118° BT. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak oseanik. Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya. Hal ini meningkatkan ketinggian Tambora sampai 4.300 m yang membuat gunung ini pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara dan mengeringkan dapur magma besar di dalam gunung ini. Perlu waktu seabad untuk mengisi kembali dapur magma tersebut.

    Menurut catatan sejarah Aktifitas vulkanik gunung berapi ini tercatat pernah meletus pertama pada  bulan April tahun 1815, Akibat letusan kala itu, Gunung Tambora membentuk kaldera kering terbesar di Indonesia dan ketinggiannya berkurang dari sekitar 4.000 meter menjadi 2.850 meter hingga sekarang.

    Letusan kedua terjdi pada bulan agustus tahun 1819 dan letusan terakhir terjadi pada tahun 1967 dan hingga kini masih dinyatakan sebagai salah satu gunung berapi aktif di Indonesia dan telah menorehkan sejarah dan mendunia karena semburan abu vulkaniknya setiap erupsi yang konon mencapai sepertiga belahan dunia kala itu bahkan hingga ke benua eropa, dan menimbulkan korban material dan korban jiwa mencapai puluhan ribu orang. (Rds)

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad