Header Ads

  • Breaking News

    Warga Lombok Utara Keluhkan Limbah Tambak Udang

    Warga Lombok Utara Keluhkan Limbah Tambak Udang
    LOMBOK UTARA, SEPUTAR NTB - Kegiatan PT Komindo Trading Utama yang membuka usaha tambak udang sejak beberapa tahun lalu di Lombok Utara, tepatnya di Dusun Montong Pal Desa Rempek Kecamatan Gangga, nampaknya tidak diorganisir dengan baik oleh pemilik perusahaan.

    Sejumlah warga yang beraktifitas dan bahkan menetap di sekitar lokasi perusahaan merasa sangat tidak nyaman akibat bau limbahnya yang amat menyengat. Setiap hari, bahkan setiap pagi dan sore warga harus menahan bau menyengat air limbah yang dikeluarkan di pinggir jalan raya yang kemudian mengalir menuju ke laut. "Setiap hari tambaknya ganti air, setiap pagi dan kadang sore juga. Limbahnya itu bau sekali, kalo orang yang tidak biasa yang cium bisa muntah itu dibuat. Pengendara yang lewat saja sampai nutup hidung kalau pas tambaknya buang limbah," ungkap salah seorang warga yang dimintai keterangan.

    Ditambahkannya, limbah tambak udang itu tidak hanya mengeluarkan bau yang memusingkan, tapi juga membuat air laut menjadi tercemar. Sehingga warga sekitar tak dapat lagi menikmati mandi di pantai, sebab air laut yang bercampur limbah tersebut mengakibatkan gatal dan sulit untuk dihilangkan."Di sekitar ini tidak ada orang yang berani mandi. Airnya gatal sekali karena bercampur limbah itu. Kalau ada orang yang liburan ke sini sama keluarganya dan mereka tidak tahu pantai tercemar dan mereka mandi, setelah mandi ya mereka garuk-garuk terus," paparnya.

    Sebelumnya warga mengaku memang sering menyampaikan keluhan kepada pihak perusahaan, namun tak pernah mendapatkan respon atas keluhan yang disampaikan tersebut. Warga mengira pemilik tambak udang ini memang tidak mau memperdulikan atas apa yang dialami warga di sekitar perusahaannya."Kita sudah sering sampaikan ke pihak tambak, melalui karyawannya dan bahkan kita sering ke sana juga, tapi tidak pernah direspon. Kayaknya dia memang tidak peduli," terang warga.

    Karena mengira tak cukup dengan keluhan lisan, pada tahun 2014 lalu, seorang warga lain bahkan sempat menyampaikan keluhan melalui surat yang ditujukan langsung kepada pemilik tambak udang dan surat dibawa sendiri ke sekretariat yang berada di satu lokasi dengan tempat tambak. Namun karena pemilik perusahaan tidak ada, akhirnya surat itu dititipkannya pada pegawai yang ada, namun hingga saat ini tak kunjung ada respon yang diterima."Waktu itu kami berpikir, mungkin tidak cukup dengan lisan, ahirnya kami buat surat dan surat mengetahui aparat desa, tapi sampai saat ini tidak juga ada respon," tuturnya.

    Warga sekitar yang sehari-harinya mencari makan dari hasil warung yang dibuka di sekitar lokasi pantai merasa sangat kecewa tanpa tahu harus berbuat apalagi untuk meminta pengertian si pemilik tambak udang, agar mau memberikan perhatiannya meski hanya dengan menghilangkan apa yang selama ini membuat mereka sangat tidak nyaman tersebut."Kami ini kan cuma orang kecil, kami buka warung di sana, jual nasi, es, kopi, jajan dan banyak macam, tapi kalau ada bau kayak gitu mana ada orang yang mau berhenti di warung kami. Jadi, ya tolong mengerti sedikitlah. Ini tidak ada sama sekali, sampai bertahun-tahun kita tunggu tetap tidak ada responnya", kesal si pemilik warung.

    Di sisi lain, PT Komindo Trading Utama, tak hanya membuat kecewa warga sekitarnya, tapi juga tidak sepenuhnya mentaati peraturan hukum yang berlaku. Pasalnya, dari dua lokasi tambak udang yang dibangun dan dijalankannya di Lombok Utara, berdasarkan pengamatan yang dilakukan ternyata salah satunya tidak memiliki dokumen lingkungan (UPL/UKL) yang diterbitkan pemerintah daerah melalui Kantor Lingkungan Hidup (KLH). Bahkan satu lokasi yang sudah memiliki dokumen lingkungan itupun tidak pernah dibuatkan laporan semester terkait pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan sesuai kewajiban yang tertera dalam Dokumen UPL/UKL. (Ndy)

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad