Header Ads

  • Breaking News

    Untukmu Calon Raja Bima (MBOJO)

    Untukmu Calon Raja Bima (MBOJO)
    Untukmu calon rajaku yang mulia adinda Yandi.

    Mbojo adalah dana (tanah) kramat. Itulah leluhurku pernah bercerita. Di setiap sudut seorang sakti mandraguna bergelar Ncuhi terjaga mengawasi tanpa lelap. Tiada sesuatu dapat luput dalam inderanya. Tiada sesuatu terlewatkan dalam pengawasannya. Kebaikan dan keburukan, adab dan tidak beradab, terkontrol secara totalitas. Kisah ini, kisah tentang yang maha sakti menjadi sangat suci. Menjadi dogma perilaku para leluhur. Terkeramatkan oleh adat, tercatat oleh budaya.

    Teringat jelas dalam ingatanku dan menjadi pedoman perilaku untuk buah tangan di perantauan. Pedoman warisan wasiat luhur tetua tanah adat. Menjadi semacam ajimat gaib mengalir bersama darah dalam nadi kehidupan. Sadar tidak sadar dia hadir dalam alam bawah sadar. Sebab itulah yang disebut ikatan suci mistik dengan avatar roh leluhur.

    Adinda Yandi yang mulia calon rajaku. Konon penobatanmu sebagai Jenateke, menurut riwayat para ahli sejarah dan budaya tanah kramat, tanah Mbojo. Bahwa penobatan tersebut adalah langkah sebagai tindakan pelestarian atas apa-apa yang pernah hidup di tanah kramat (walau sebagian lain ahli sejarah dan budaya tanah kramat membantah hal demikian sebab ada unsur lain, menurut mereka). Pelestarian adat, pelestarian budaya, pelestarian norma, pelestarian nilai maupun hal lainnya. Dengan demikian, maka kesakti - mandragunaannya seorang Ncuhi pun terakui, dengan kata lain akan kembali hidup. Sebagaimana terkisahkan, merekapun (para Ncuhi) mampu murka terhadap tanah adat ketika manusia tanah adat tidak menunjukan keberadaban.

    Polemik tentang penobatan engkau sebagai Jenateke mari kita sepakat untuk dihentikan. Kita bersependapat dan bersepakat untuk mengikuti alur logika kisah yang di ceritakan oleh para ahli sejarah dan budaya tanah adat, bahwa penobatan engkau sebagai Jenateke benar adanya sebagaimana uraian diatas yaitu bentuk tindakan pelestarian. Oke urusan ketidak - sependapat dan ketidak - sepakatan kita abaikan.! deal and deal.!

    Wahai calon rajaku yang mulia adinda Yandi. Seperti bahasa dalam pengakuan engkau dalam kata sambutan penobatan sebagai Jenateke bahwa engkau akan belajar. Akan belajar.! walau sedikit menggelitik tentang bahasa akan belajar ini tidak semestinya keluar dari mulut seorang calon raja. Sebab pemahaman standar kami rakyat terhadap pola laku tata Krama kerajaan, calon raja seharusnya dan sesungguhnya sejak awal dan sejak dini sudah dipersiapkan, yang artinya ketika dinobatkan menjadi Jenateke, sudah mahsum dan khatam, tidak lagi akan belajar melainkan sudah mempraktekkan hasil belajar sebelum diangkat. Artinya adinda Yandi yang mulia calon rajaku, dapat dikatakan sesungguhnya belum siap menyandang gelar tersebut yaitu gelar Jenateke. Tapi lagi-lagi mari kita hindari polemik simantik soal literasi tata bahasa. Kita sebagai rakyat akan mengalah dan mengiyakan bahwa benar atas bahasa yang mulia calon rajaku adinda Yandi. Hukum peradatan yang tidak pernah di sepakati oleh kedua belah pihak atau entah siapa yang telah mensepakati, bahwa rakyat harus selalu mengalah demi raja. Tidak ada tawar menawar, berusaha menawar sama halnya menolak tunduk patuh terhadap raja. Itulah kedaulatan, rakyat menyerahkan kedaulatannya di tangan Raja.

    Lagi-lagi mari kita lupakan penobatan beserta seluruh isi rangkaian dan prosesnya. Mari kita menatap masa depan tanpa melupakan masa lalu. Begitulah adanya, penobatan Jenateke bertujuan bagaimana melestarikan kehidupan-kehidupan masa lalu untuk menatap, meramu dan merumuskan kehidupan masa depan yang lebih baik sepenuhnya. Upaya itu adalah upaya mengadopsi kembali nilai yang lalu selama relevan dengan nilai kehidupan sekarang dan kedepannya.

    Calon rajaku yang mulia adinda Yandi. Engkau pasti tau dan sangat paham bagaimana masyarakat tanah adat, tanah Mbari dalam berkehidupan dan bermasyarakat dahulu. Baik secara vertikal, horizontal maupun dengan alam semesta beserta isinya. Bagaimana mereka dulu beragama, sangat taat. Berguru, sangat taat. Berpendidikan, sangat taat. Bersosial, sangat santun dan ramah.  Ulama di muliakan, orang tua dihormati, sebaya di hargai, yang muda diayomi. Malu adalah pakaian mereka dan takut adalah perisai mereka. Atas dasar demikian lahirlah filosofi hidup mereka yang di kenal dengan MAJA LABO DAHU. Ikatan itu sangat kuat, menyatu bersama jiwa dan raga menjadi kesatuan yang utuh sehingga tercipta rasa persatuan di antara mereka. Gotong royong, saling membantu sesama, tenggang rasa, merasa apa yang dirasa oleh yang lain, tolong menolong adalah keseharian aktivitas hidup mereka. Di tanah ini, tiada kemunafikan, tiada kecurigaan, tiada penghujatan, tiada kebohongan. Apalagi janji palsu.! Di tanah ini, Cinta, kasih dan sayang, Menyatu bersama, mengalir bersama, meresap bersama, menghembus bersama. Bersama dengan api, air, tanah dan angin. Apa mereka bahagia.? Sangat bahagia wahai calon rajaku yang mulia adinda Yandi.

    Kini tanah adat, tanah Mbari itu terpecah menjadi dua bagian, terjadi akibat konsekuensi logis ketertundukan mutlak buyut engkau atas NKRI, atas Pancasila, itu riwayat yang aku dapat. Ketertundukan tersebut ditandai pengakuan atas sistem pemerintahan sebagaimana konstitusi Republik Indonesia, itu mutlak adanya terkecuali konstitusi Republik Indonesia pun mengatur tentang keistimewaan yang lainnya yang serupa dengan tanah adat, tanah Mbari. Namun ketertundukan yang dimaksud tidak mempengaruhi kerajaan yang akan engkau akan bangun sekarang. Dalam pengertian wilayah kekuasaan engkau (walau wilayah itu semu jika lagi-lagi mengacu terhadap konstitusi NKRI) tidak terpecah yaitu meliputi kota Bima dan kabupaten Bima. Sebaran wilayah kerajaan engkau, meliputi daratan, udara dan laut yang pernah buyut dan leluhur engkau kuasai.

    Calon rajaku yang mulia adinda yandi. Dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia sebagaimana konstitusi telah mengaturnya, ibunda engkau menguasai sebagian wilayah kekuasaan (kerajaan) engkau (Kabupaten Bima) dengan Visi Bima RAMAH yang sampai detik ini VISI tersebut belum sama sekali terlaksana bahkan semakin jauh tertinggal oleh kenyataan. Dan sebagian lainnya dari wilayah kekuasaan (kerajaan) engkau di kuasai oleh rakyat engkau (Kota Bima). Tidak perlu gundah gulana wahai calon rajaku, sebab penguasaan wilayah tersebut hanya amanat konstitusi Republik Indonesia bukan amanat konstitusi kerajaan yang engkau akan duduki tahtanya. Artinya tanah adat, tanah keramat masih dalam genggaman engkau dengan legitimasi rakyat yang menghadiri penobatan engkau sebagai Jenateke kemarin lalu. Atas titah kerajaan dan legitimasi kedaulatan Raja, engkau sebagai calon Raja dapat memanggil dan memerintah Ibunda engkau (Bupati) dan Rakyat engkau (Walikota).

    Okeee.!! Kita sependapat dan bersepakat, lagi-lagi melupakan perdebatan konstitusi Republik Indonesia dan konstitusi kerajaan. Kita fokus pada soal pelestarian apa-apa yang pernah hidup (dan kini tentu sudah tidak lagi hidup) dimasa moyang buyut dan leluhur engkau calon rajaku yang mulia adinda Yandi.

    Taukah kau wahai calon rajaku yang mulia adinda yandi. Dulu tanah adat, tanah kramat, tanah ini, Tanah Tetua Leluhur, Kami dilahirkan, Kami dibesarkan, Kami diajarkan, Kami dididik. Di tanah ini, Kami mengenal menolak menyerah pada keadaan, menolak tunduk pada kenyataan. Di tanah ini doa kami panjatkan, ikhtiar kami lakukan dan ketaatan kami laksanakan. Di tanah ini, tanah para leluhur, yang muda kami hargai, yang tua kami hormati, yang berilmu kami muliakan. Di tanah ini, tanah para tetua, tahta kami kesampingkan dan harta kami abaikan.

    Di tanah ini, manusianya hanya menghamba pada Tuhan. Manusianya hanya memuji Tuhan. Manusianya hanya memuja Tuhan. Manusianya hanya mengagungkan Tuhan. Di tanah ini, kami di tempa oleh alam. Waktu adalah segalanya. Musim harus di baca, cuaca harus dilewati. Siang dan malam harus dijalani, panas dan dingin harus dihadapi. Lapar dan haus harus dirasakan.

    Di tanah ini, kami jadikan mentari dan senja adalah sahabat. Matahari dan hujan adalah saudara. Di tanah ini, kami selalu dalam keikhlasan. Harapan dan cita-cita diraih dengan kerja keras. Itu yang tertanam dalam hati dan pikiran, mimpi cumanlah penghias tidur.

    Tapi itu semua dulu, sebab kini, seusai di makan jaman dan dilapuk usia. Apa-apa yang hidup di tanah adat, tanah mbari sangat-sangatlah mengerikan. Entah dari mana hadirnya mahluk yang bernama narkoba, tramadol, pembuangan bayi, konflik antar saudara, pembunuhan, perkelahian, perjudian, miras dan lainnya. Dan mahluk yang bernama taat beragama, taat terhadap guru, sopan santun dan ramah, orang tua di hormati, ulama dimuliakan, sebaya dihargai, yang muda diayomi, rimbanya menghilang entah kemana. Malu yang menjadi pakaian dan takut yang menjadi perisai itu telah rapuh terkubur bersama leluhur tanah adat, tanah Mbari. Filosofi MAJA LABO DAHU menjadi sangat kusam, hanyalah penghias tembok-tembok pinggir kota (dalam istilah Iwan Fals_Coretan dinding) dan catatan-catatan indah spanduk pengrusak keindahan jalan raya. MAJA LABO DAHU sudah menjadi semacam alat propoganda utopis dan agitasi murahan tentang nilai-nilai berkehidupan bangsa leluhur. Mahluk tamak, sombong, angkuh dan serakah semacam telah bersemayam dalam Jiwa-jiwa mereka. Ahhh, gotong royong sirna tergantikan oleh persaingan. Waoowwwwww saling membantu lenyap tergantikan oleh pamer memar. Ooohhhh tenggang rasa pudar digantikan oleh adu kekuatan. Iiiihhhhhhh merasa apa yang dirasa yang lain tergantikan oleh iri dengki.

    Begitulah kini keadaan tanah dan rakyat engkau wahai calon rajaku yang mulia adinda Yandi. Beban yang akan engkau hadapi dan engkau pikul di usia yang masih sangat beliau di era manusia dan rakyat sudah merasa diri tercerahkan, begitulah berat. Tentu perbedaannya sangat berat akan engkau masih hadapi jika dibandingkan dengan apa yang dirasa oleh buyut dan leluhur engkau. Beban itu kau terima di bawah sumpah dengan di dahului oleh ritual penyucian dengan air suci temba (sumur) keramat. Jika menghidupkan kembali kerajaan berkonsekuensi menghidupkan kembali para sakti mandraguna bergelar Ncuhi yang konon sebagaimana aku mendapatkan riwayat cerita bahwa suatu waktu mereka dapat menjadi sangat murka atas apa yang terjadi di tanah adat, tanah keramat (itu yang aku dengar ketika di ceritakan sebagai pengantar tidur waktu manja-manjaku dulu). Maka aku hanya bisa berdoa pada yang maha esa, maha kuasa yaitu Gusti ALLAH pemilik semesta yang menggenggam nyawa setiap mahluk, agar aku, engkau calon rajaku, rakyat tanah adat, tanah mbari terhindarkan dari mara murka sang sakti mandraguna bergelar Ncuhi.

    Siapapun kita, memiliki kesadaran nurani dan kesadaran jiwa untuk mencintai tanah adat, tanah Mbari. memiliki harapan spektakuler, harapan sangat indah atas tanah leluhur, dana (tanah) mbojo. Aku dan entah siapapun pula, barang tentu tidak ingin menjadi Arok yang berhadapan secara langsung menumbangkan Kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung atau Dedes yang secara diam-diam lewat dalam tembok istana menghancurkan pengaruh dan kekuasaan (Kudeta) Akuwu Tunggul Ametung. Tapi jika keadaan terus begitu adanya tanpa terselesaikan maka kamipun sangat mungkin akan menjadi keduanya, menjadi Arok sekaligus Dedes.

    Doa kita, tidak lupa kita panjatkan untuk para pendahulu, para tetua, para leluhur. semoga mereka mewarisi cakram kebaikan untuk kita dan untuk mereka surgalah selayak-layaknya tempat untuk kembali. Amiiinn.. Wallahuallam..

    Oleh: Muh. Isnaini, Pengurus DPD KNPI NTB

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad