Header Ads

  • Breaking News

    Camat Poto Tano Canangkan safari Jum’at

    Camat Poto Tano Canangkan safari Jum’at
    SUMBAWA BARAT, SEPUTAR NTB - Ahmad Rivai SKM Camat Poto Tano  Kabupaten Sumbawa Barat bersama Muspika mencanangkan Safari Jum’at dan safari gotog royong implementasi dari Program Daerah Pemberdayaan Gotong Royong ( PDPGR ).

    Menurut Rivai dengan spirit baru dalam melakukan percepatan pembangunan. Sejak awal Bupati dan Wabup KSB meletakkan pondasi dasar pembangunan melalui PDPGR. Program Daerah Pemberdayaan Gotong Royong merupakan cerminan nilai-nilai Revolusi Mental di tingkat lokal. Hal ini merujuk pada Gerakan Nasional Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Pemerintahan Jokowi, dan mengandung tiga nilai utama, yaitu Integritas, Etos Kerja dan Gotong Royong. Revolusi mental inilah yang kemudian menjadi spirit seluruh masyarakat dan aparatur sebagai pelayan masyarakat sampai ke tingkatan paling bawah.

    “Dalam pelaksanaannya safari Jum’at, muspika melibatkan peran masyarakat serta agen pemberdayaan gotong royong dari masing-masing wilayah, mulai dari Kecamatan, Desa/Kelurahan hingga Peliuk (Blok Wilayah) “jelas Rivai.

    Selain itu,  unsur TNI mulai dari Dandim, Danramil, hingga Bintara Pembina Desa (Babinsa); Unsur Kepolisian, mulai dari Kapolres, Kapolsek hingga Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas); serta unsur Kejaksaan melalui Tim Pengawal dan Pengamanan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) juga terlibat.

    Masyarakat Kecamatan Poto Tano adalah masyarakat pluralistic yang dihuni oleh berbagai suku. Untuk itu sikap toleransi beragama selalu ditanamkan sebagai perilaku terbuka dan menghargai segala perbedaan yang ada dengan sesama. Biasanya orang bertoleransi terhadap perbedaan kebudayaan dan agama. Namun, konsep toleransi ini juga bisa diaplikasikan untuk perbedaan jenis kelamin, anak-anak dengan gangguan fisik maupun intelektual dan perbedaan lainnya.

    “Toleransi juga berarti menghormati dan belajar dari orang lain, menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak stereotip yang tidak adil, sehingga tercapai kesamaan sikap dan Toleransi juga adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat “ jelas Rivai.

    Kondisi masyarakat  yang pluralistis menimbulkan permasalahan tersendiri, seperti masalah agama, paham separatisme, tawuran ataupun kesenjangan sosial. Dalam kehidupan masyarakat Desa Kokarlian, kerukunan hidup antar umat beragama harus selalu dijaga dan dibina. Kita tidak ingin Masyarakat Kokarlian terpecah belah saling bermusuhan satu sama lain karena masalah agama.Toleransi antar umat beragama bila kita bina dengan baik akan dapat menumbuhkan sikap hormat menghormati antar pemeluk agama sehingga tercipta suasana yang tenang, damai dan tenteram dalam kehidupan beragama termasuk dalam melaksanakan ibadat sesuai dengan agama dan keyakinannya melalui toleransi diharapkan terwujud ketenangan, ketertiban serta keaktifan menjalankan ibadah menurut agama dan keyakinan masing-masing. Dengan sikap saling menghargai dan saling menghormati itu akan terbina kehidupan yang rukun, tertib, dan damai.

    “Contoh pelaksanaan toleransi antara umat beragama di Desa Kokarlian dapat dilakukan dengan sistim gotong royong diantaranya membangun jembatan, memperbaiki tempat-tempat umum, membantu orang yang kena musibah banjir, tanpa mengenal Suku, ras , dan agama “ jelas Rivai.

    Jadi, bentuk kerjasama ini harus kita wujudkan dalam kegiatan yang bersifat sosial kemasyarakatan dan tidak menyinggung keyakinan agama masing-masing. Kita sebagai umat beragama berkewajiban menahan diri untuk tidak menyinggung perasaan umat beragama yang lain. Hidup rukun dan bertoleransi tidak berarti bahwa agama yang satu dan agama yang lainnya dicampuradukkan. Jadi sekali lagi melalui toleransi ini diharapkan terwujud ketenangan, ketertiban, serta keaktifan menjalankan ibadah menurut agama dan keyakinan masing-masing. Dengan sikap saling menghargai dan saling menghormati itu, akan terbina peri kehidupan yang rukun, tertib, dan damai. Dalam kehidupan sehari-hari.

    Menurut Rivai, mengapa sering terjadi peristiwa seperti tawuran antar pelajar di kota-kota besar, tawuran antar warga, peristiwa atau pertikaian antar agama dan antar etnis dan lain sebagainya. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan cerminan dari kurangnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi toleransi dalam kehidupan di masyarakat antara lain, yaitu adanya sikap saling menghormati dan menghargai antara pemeluk agama, Tidak membeda-bedakan suku, ras atau golongan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara itulah semanga Ikhlas, jujur dan sungguh-sungguh ( IJS ).

    “Kehidupan toleransi beragama tersebut perlu tetap dipelihara agar tidak terjadi disintegrasi bangsa. Adapun toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara antara lain: Merasa senasib sepenanggungan, menciptakan persatuan dan kesatuan, rasa kebangsaan atau nasionalisme, mengakui dan menghargai hak asasi manusia, membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan, menghindari terjadinya terpecahan serta memperkokoh Silaturahmi dan menerima perbedaan “ urai Rivai. (Edi. C)

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad