Menu Right

Top Social Icons

Responsive Full Width Ad

Left Sidebar
Left Sidebar
Featured News
Right Sidebar
Right Sidebar

Kamis, 20 April 2017

Kasus Steven maki gubernur NTB: Ada yang arahkan ke isu SARA?


MATARAM, SEPUTARNTB. Sekelompok orang dikhawatirkan berusaha memperkeruh suasana dengan mempertentangkan isu SARA dalam kasus dugaan penghinaan atas Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kekhawatiran itu muncul dari aksi pengerahan massa di Kota Mataram, Provinsi NTB, Senin (17/04), karena sebagian peserta aksi mengkaitkan persoalan dugaan penghinaan perorangan menjadi meluas pada kelompok etnis tertentu.

Selain menuntut polisi menindaklajuti laporan hukum terhadap Steven Hadisurya Sulistyo -yang dianggap menyebarkan kebencian berdasar etnis dan ras- sebagian perwakilan pengunjuk rasa menganggap komentarnya sebagai 'sebuah ungkapan sadar yang diindikasikan sebagai sikap kolektif kelompok tertentu'.

Direktur Riset Lembaga Setara, Ismail Hasani, mengatakan pernyataan Steven yang dianggap menghina Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Zainul Majdi dan istrinya, seharusnya diletakkan sebagai persoalan pribadi dan bukan pada latar belakang etnisnya.

"Masyarakat diharapkan tidak terprovokasi oleh sikap perorangan yang dianggap menghina. Itu sesuatu yang dalam pergaulan sering terjadi, tetapi (karena) konteksnya gubernur, kemudian menjadi membesar," kata Ismail Hasani kepada BBC Indonesia.

Ismail juga menganggap persoalan ini tidak perlu diperpanjang dengan membawanya ke ranah hukum, apalagi Steven sudah meminta maaf kepada Gubernur NTB dan istrinya, yang pada gilirannya sudah memaafkan Steven pula. "Kalau sudah memaafkan, maka semestinya cukup sampai di situ saja," tandas Ismail.

Kasus ini bermula ketika Steven dilaporkan mengeluarkan komentar yang dianggap menghina Gubernur NTB, Zainul Majdi, dan istrinya saat berada di Bandar udara Changi, Singapura, Minggu (09/04) lalu.

Diduga dilatari kesalahpahaman saat antri di depan counter maskapai penerbangan Batik Air, pria kelahiran 1991 itu kemudian dianggap mengeluarkan kata-kata yang bernada melecehkan.

Dikutip media massa, pria kelahiran Jakarta itu disebutkan melontarkan kalimat, "Dasar Indo, Dasar Indonesia, Dasar Pribumi, Tiko!" di hadapan Zainul dan istrinya.

Namun Steven kemudian membuat surat permintaan maaf tertulis kepada Zainul Majdi, Selasa (11/04) lalu. "Saya telah menyadari bahwa kata-kata saya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar NKRI, Pancasila, dan UUD 1944," tulisnya.

Dia juga berjanji tidak akan mengucapkan lagi kata-kata yang dapat menimbulkan keretakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Walaupun Gubernur NTB Zainul Majdi telah memaafkan yang bersangkutan -dan meminta masyarakat NTB tidak terprovokasi atas kasus umpatan SARA- tetapi masalah ini terus bergulir dan menjadi sorotan di media sosial.

Sebagian orang yang mengaku warga NTB, bahkan sempat mendatangi rumah yang disebut milik Steven di Jakarta, pekan lalu.

Dalam perjalanannya, kasus ini akhirnya dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Mohammad Jusuf Hamka, yang dikenal sebagai Ketua Masyarakat Muslim Tionghoa, Jumat (14/04), melalui pengacaranya, Farhat Abbas.

Steven dilaporkan berdasarkan Pasal 16 UU Nomor 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis yang mengatur tentang setiap orang yang dengan sengaja menunjukkan kebencian kepada orang lain berdasarkan ras dan etnis. (BBC)
Loading...

Portal Berita Yang Lugas, Terpercaya dan Inovatif dari Nusa Tenggara Barat

Tidak ada komentar

Responsive Full Width Ad

Copyright © 2016 Seputar NTB, powered by Blogger.