Header Ads

  • Breaking News

    SAMBUT RAMADAN, POL PP SOSIALISASI PENGENDALIAN MINOL


    LOBAR,SEPUTARNTB--Menyambut bulan suci Ramadhan 1438 Hijriyah, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat lakukan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pengawasan, Pengendalian, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol (Minol) kepada 40 orang penjual dan produsen dari Desa Mambalan, Mekarsari dan Jeringo Kecamatan Gunung Sari bertempat di SKB Gunung Sari pada Jumat (12/5).

    Sosialisasi dipimpin oleh Asisten I Bidang Aparatur dan Pemerintahan Kabupaten Lombok Barat,Drs.H.Halawi Mustafa dihadiri oleh Kepala Dinas Perijinan Terpadu Lombok Barat,H.Efendi, Kepala Dinas Perindag Lobar,Agus Gunawan dan jajarannya serta pihak Kepolisian. Tanpa satu pun Kepala Desa dari desa-desa yang diundang.

    Kegiatan tersebut juga menjawab keresahan warga atas banyak beredarnya Minol Tradisional (Tuak) di warung-warung dan tempat-tempat tertentu yang menyajikan hiburan karaoke dan partner song (PS) yang ada di tengah pemukiman warga.

    Diinisiasi oleh Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP),kegiatan itu dilakukan guna menjawab keluhan masyarakat serta upaya mewujudkan Ramadhan yang khidmat di tengah masyarakat. 

    Keluhan dan aduan masyarakat tersebut segera ditindak lanjuti sebagai langkah preventif atas gangguan Kamtibmas yang terjadi di 3 desa tersebut beberapa waktu terakhir.

    Dalam kesempatan itu, Pemkab Lobar melalui Asisten I Bidang Apatatur dan Pemerintahan Drs.  H.  Halawi Mustafa mengingatkan para pelaku usaha untuk menutup usahanya. 
    Kepala Dinas Sat Pol Pp,  Mahnan,  S. STP menyerukan hal serupa dan memberi tenggang waktu kepada para pengusaha hiburan dan warung selama tiga hari untuk menutup usahanya. 

    "Jika tidak, maka Pol-PP bersama Polres, Polsek, Kodim dan unsur SKPD terkait akan turun menertibkan", ujarnya tegas sambil menjanjikan Bupati Lombok Barat,  H. Fauzan Khalid akan turut serta dalam operasi yang akan digelar. 

    Mantan Camat dan mantan Kepala Kantor Aset ini mengapresiasi permintaan para pengusaha warung agar sasaran pencegahan dan penindakan tidak hanya menyasar mereka selaku penjual, namun juga kepada produsen dan konsumen. 
    "Mereka hanya pengedar dari pengepul," cerita Mahnan. 

    Minuman tuak yang dijual Rp. 8000/ botol didapatkan dari pengepul seharga Rp.  5000. "Keuntungannya cuma Rp. 3000. Kecil sekali.  Tapi kalau rata-rata per orang minum 3-4 botol kali banyak yang datang, wah banyak sekali tuak yang beredar.  Belum lagi kali jumlah warung, " paparnya. 

    Terhadap keluhan para pengusaha itu,  Pemkab Lobar melalui Dinas Perindag memberikan tugas pembinaan untuk mengalihkan produksi air nira agar tidak menjadi tuak lagi. Apalagi komitmen Pemkab Lobar yang sering diutarakan Bupati Lobar adalah mengalihkannya menjadi Gula Semut. (ft/hms).

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad