Header Ads

  • Breaking News

    Jelang Peringatan Hari Besar Islam, Pemprov NTB Antisipasi Kenaikan Harga Sembako.


    MATARAM,SeputarNTB. -  Tradisi masyarakat sasak dalam menyambut hari-hari besar seperti Puasa Ramadhan dan Lebaran, atau perayaan seperti Maulid Nabi, selalu membutuhkan konsumsi lebih, sehingga secara otomatis menjelang perayaan-perayaan tersebut tingkat konsumsi masyarakat menjadi berlipat-lipat. Meski pada waktu-waktu tersebut kerap kali harga sembako menjadi melangit. 

    Daerah-daerah sperti Kota Mataram dan Lombok Barat  merupakan daerah dengan tingkat konsumsi kebutuhan tinggi. Tingkat konsumsi untuk kebutuhan pokok di daerah ini dinilai cukup tinggi selama bulan maulid. 

    Mengingat pada setiap PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) seperti sekarang, masyarakat biasanya menggelar acara tasyakuran dengan menghidangkan aneka makanan dalam porsi besar, "acara seperti itu membutuhkan kebutuhan pokok dalam jumlah besar juga",ungkap Asisten Dua Bidang Ekonomi Pemprov NTB Chairul Machsul, saat dikonfirmasi Seputar NTB  Rabu (29/11). 

    Belanja  masyarakat  untuk keperluan sehari-hari pada bulan Maulid dan Ramadhan membengkak, jauh lebih besar dari angka pengeluaran sehari-hari. Tak terlepas dari jumlah kebutuhan tersebut, harga kebutuhan konsumsi pun semakin melangit. Beberapa komoditi bahan pokok masih tergolong tinggi seperti beras, cabai rawit, bawang merah dan bawang putih.

    Menurut Chairul, Pria yang akrab disapa "Pak CM" ini, Pemprov NTB juga harus campur tangan dalam mengontrol hal tersebut agar tidak terjadi inflasi. "Karena itu, selain melakukan intervensi dalam bentuk Operasi Pasar (OP) sebagai langkah terdekat, diperlukan pergerakan harga dan kebutuhan pokok" ujarnya. 

    Ia (Chairul-Red)  juga menyebutkan  Stok kebutuhan harus terjaga dengan melakukan identifikasi penyebab inflasi. Kemudian kinerja harga saham yang tidak wajar, bisa dimasukkan ke data temuan. "Maka, perlu pula keterlibatan polisi" tegasnya. 

    Menurut Kepala Bulog Wilayah NTB, Achmad Ma'mun, tren harga harga kebutuhan pokok terus naik, "harga pokoknya, apalagi beras, trennya terus naik. Karena itu pemerintah melakukan intervensi dengan menggelar OP jangan sampai nanti kita dikejutkan dengan harga tiba-tiba sudah naik tinggi", jelasnya.

    Ma'mun menyatakan, biasanya dalam Operasi Pasar, Bulog selalu mematok harga lebih murah dari harga pasar, "misalnya untuk jenis beras menengah di Bulog harganya Rp.7.300, sementara harga jual dengan harga Rp.8.100 per kg. Sedangkan harga di pasaran mencapai lebih dari Rp.9.000. Untuk gula, dijual dengan harga Rp12.000 per kg, di pasaran bisa Rp12.500 hingga 13.000 per kg. Demikian juga dengan minyak goreng dari Rp13.000 menjadi Rp12.000, begitu juga bawang putih, naik-turun", jelasnya.

    OP sendiri akan digelar hingga 31 Desember mendatang di seluruh wilayah NTB. Untuk beras, Bulog NTB menyediakan stok 3.000 ton, tapi untuk sehari akan disediakan dua sampai tiga ton. OP akan tetap diawasi dan dilihat perkambangannya. "Setiap minggu sudah dilakukan, dan dicek berapa penyerapannya dalam sehari", tutupnya. (AND)

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad