Menu Right

Top Social Icons

Responsive Full Width Ad

Left Sidebar
Left Sidebar
Featured News
Right Sidebar
Right Sidebar

Rabu, 21 Maret 2018

Progres Gula Aren Cenderung Menaik, Disperindag Siapkan UPT

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Lombok Barat H Agus Gunawan
Lombok Barat, Seputar NTB - Salah satu sentra industri gula aren yakni Desa Kekait Lombok Barat (Lobar) dengan luas lahan sekitar 124 hektare serta dengan 379 petani dapat mengelola nilai potensinya berkat kerja keras mereka dengan seabrek langkah jitu pemerintah guna mengangkat dan  mewujudkan olahan prodak lokal. Rencananya gula aren tersebut sebagai prakarsa produk unggulan sesuai slogan yang diamanahkan Bupati yaitu, ayo pakai produk lokal Lobar. Pernyataan tersebut disampaikan ketua kelompok bukit tuan H.Musta'an desa Kekait lobar.

Tingkat produksi gula aren di Kekait sangat tinggi mengingat satu pohon aren bisa menghasilkan 5 hingga 10 liter perhari. Selain itu, manakala aren dikalikan jumlah terendah saja, 300 pohon saja dalam sehari, maka capaian produksi sehari mampu menembus 1500 liter.

"Tinggal kami kelola saja, dengan jumlah 1500 liter saja perhari, nilai ekonomis nya sangat besar untuk kemajuan masyarakat," ujarnya.

Terkait dengan pemasaran kata H.Musta'an, sejauh ini tetap lancar bahkan tidak terjadi kendala apapun, meski sebenarnya sangat membutuhkan sentuhan atau akomodasi langsung dari Pemerintah terkait.  Pemasaran kita masih di seputaran Lombok saja. Edarnya masuk di pasar pasar tradisional, pasar umum serta pasar ritel modern yang ada, ungkapnya.

Melihat progres potensi aren sendiri trendnya dari tahun ke tahun semakin meningkat, harganya tetap stabil bahkan cenderung menaik. Peningkatan terjadi setelah ada deversifikasi produk yakni  gula semut, dan produk turunannya seperti serbak dan lainnya. Gula batok  dan gula bumbung, pusarannya untuk pasar tradisional. Sedangkan yang masuk di pasar ritel modern yaitu gula kriket, gula cair, gula semut dan minuman serbak.

"Sehingga kebutuhan gula aren itu semakin menaik karena untuk gula semut sendiri sudah berhasil menarik konsumen Jepang, terang H.Mustaan.

Kita ingin Disperindag agar kemudian mensinkronkan dengan program Pemerintah Daerah Lobar untuk bisa mengurangi efek negatif dari air nira itu sendiri agar bisa diminimalisir air nira tersebut agar tidak diolah menjadi minuman keras.

"Air nira ini masih ada sebagian kecil warga yang mengolahnya untuk minuman keras, meski demikian, tetap saja berdampak karena efek negatifnya,"cetus dia.

Untuk itu kita sangat mendukung program pemerintah lobar dalam hal ini Disperindag agar bisa ikut mendorong kita untuk berpartisipasi dalam mensukseskan permintaan Bupati untuk bisa menuntaskan efek negatif tersebut hingga target 2019 dapat tertuntaskan.

Dikatakannya, dari 3 kelompok yang terbentuk di Kekait rata rata Masih aktif, semuanya mendapat bimbingan teknis dan pelatihan, kendati masih dalam skala terbatas.

"Pembinaan ada, hanya saja masih dalam skala terbatas, entahlah, mungkin masih keterbatasan APBD nya atau bagaimana,"cetusnya.

Untuk membantu pemasaran terhadap gula aren, pemerintah membuat langkah strategis sebagaimana yang pernah dikatakan Bupati Fauzan Khalid saat itu untuk jangka pendek wajib hukumnya, apapun kantor yang ada, siapapun itu sepanjang masih mereka sebagai  pengguna dan pengelola  APBD untuk tetap menggunakan produk lokal.

"Kendati ini masih dalam wacana, mudahan ini bukan kegagalan," harapnya.

Sementara Kepala Disperindag Lobar Agus Gunawan mengatakan, program potensi gula aren tengah berjalan sejak 2017 ini, terbukti bekerjasama dengan BI, bahkan sudah di MoU kan dan sudah ada penanganan, yang jelas untuk membangun dua UPT di Lobar.

Ada empat wilayah yang menjadi potensi gula aren yaitu, Lingsar, Narmada, Gunung Sari dan Batu layar. Untuk mengkafer ini, kita sudah menetapkan di dua lokasi. Untuk wilayah Lingsar dan Narmada, lokasinya UPT nya  berada di Longseran. " Kami sudah melobi, tahun depan baru dibangun dengan Anggaran 2 M di tahun 2018,"jelasnya. Sedangkan Gunung Sari dan Batu Layar akan dibangun UPT di Wadon Lobar, lanjutnya.

"Saat ini kita sudah melakukan pelatihan, kita siapkan dari hulu hilir," ucap Agus.

Masalah Pemasaran sendiri kata Agus, merupakan kebijakan Bupati dan saat ini prodak lokal kita sudah masuk di beberapa pasar modern. Ke dua, menindakanjuti kebijakan Bupati, pihaknya sudah membuat konsep surat peraturan Bupati bahwa, diwajibkan kepada sekolah sekolah, hotel dan SKPD yang ada di Lobar untuk menggunakan gula aren.

Disebutkan, desa Kekait menjadi pilot project yaitu desa percontohan desa desa lain untuk bisa kita kembangkan, pungkasnya. (Wan)
Loading...

Portal Berita Yang Lugas, Terpercaya dan Inovatif dari Nusa Tenggara Barat

Tidak ada komentar

Responsive Full Width Ad

Copyright © 2016 Seputar NTB, powered by Blogger.