Header Ads

  • Breaking News

    Harganas Momentum Optimalkan Fungsi Keluarga


    Lombok Utara - Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXV tingkat Provinsi NTB yang diselenggarakan di Kabupaten Lombok Utara (KLU) menjadi sebuah kado istimewa. Karena, penyelenggaraannya digabungkan dengan rangkaian peringatan Satu Dasawarsa Lombok Utara. Sehingga menjadi momentum sangat istimewa untuk menjadikannya sebagai wahana membangun dan mempertahankan keluarga kecil bahagia sejahtera.

    Hal ini disampaikan Ketua TP PKK KLU Hj Rohani Najmul Akhyar pada penyambutan konvoi kendaraan pelayanan dan pembukaan gelar dagang di lapangan Tioq Tata Tunaq, kemarin (20/7). Harganas dimeriahkan dengan berbagai kegiatan. “Seperti, lomba mewarnai tingkat anak-anak, seminar kewirausahaan, konvoi kendaraan pelayanan, gelar dagang, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

    Dijelaskan, keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi setiap anak untuk belajar mengenal lingkungan, memperoleh pendidikan, pembentukan dan pengembangan karakter, kepribadian, etika, moral dan sopan santun. “Sehingga fungsi keluarga yang berjalan dengan baik mendorong terbentuknya keluarga yang harmonis,” ujarnya.

    Khusus terkait kegiatan gelar dagang, ini untuk menggerakkan perekonomian keluarga melalui kelompok-kelompok UPPKS dan UP2K yang ada di Provinsi NTB. Momentum ini menjadi daya ungkit yang besar untuk melahirkan komitmen baru bagi penyempurnaan program pembangunan keluarga kecil bahagia sejahtera serta memfasilitasi program-program kependudukan di masa yang akan mendatang.

    Wakil Ketua TP PKK Provinsi NTB Ersa Batu Bara mengapresiasi atas ketersediaan pemerintah daerah dan masyarakat Lombok Utara yang menyelenggarakan Harganas XXV tingkat Provinsi NTB. Harganas yang diperingati setiap tahunnya merupakan perwujudan, kepedulian, perhatian dari pemerintah dan diri sendiri dalam upaya menjadikan keluarga sebagai objek dan subjek pembangunan bangsa.

    Keluarga harus menjadi wahana yang tangguh dan mandiri sehingga terwujudnya ketahanan nasional. “Melalui kegiatan gelar dagang diharapkan bisa membantu kelompok ekonomi mikro dapat memasarkan produk-produk unggulannya,” tandasnya.

    Sementara itu, Bupati Lombok Utara H Najmul Akhyar menyatakan, pemkab sangat konsen melakukan kegiatan berkaitan keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, fasilitas kesehatan selengkap-lengkapnya untuk masyarakat. Selain itu, angka pernikahan dini yang masih tinggi di Lombok Utara menjadi perhatian Pemkab Lombok Utara. Berbagai langkah pun dilakukan untuk menunda usia perkawinan. “Hal ini penting dilakukan untuk mewujudkan ketahanan keluarga yang lebih kuat,” katanya.

    Berbagai media pun digunakan untuk mengkampanyekan penundaan usia perkawinan. Salah satunya pembuatan film yang diinisiasi Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemerintah Desa (DP2KBPMD) Lombok Utara.

    Kepala DP2K BPMD Lombok Utara H Kholidi Halil mengungkapkan, media kampanye penundaan perkawinan usia dini dilakukan dengan pembuatan film berjudul ‘Masih Ada Harapan’. Film ini dibuat bekerjasama dengan Pratama Picture dan disutradarai Imam Safwan. ”Film ini diputar perdana kemarin (20/7) malam di halaman kantor bupati Lombok Utara,” ujarnya.

    Dijelaskan Kholidi, film yang mengangkat pesan penundaan usia perkawinan ini dibintangi putra-putri asli Lombok Utara. Dialog film juga sengaja menggunakan dialek paer daya (Lombok Utara, Red) dengan maksud lebih mudah dipahami. ”Setelah diputar perdana, film ini akan kita gunakan untuk sosialisasi ke sekolah-sekolah yang ada di Lombok Utara,” katanya.

    Ada beberapa penyebab perkawinan usia dini misalnya tingkat pendidikan, faktor ekonomi, dan perkembangan teknologi tanpa ada filter. Selain itu, faktor kurang perhatian dari orang tua juga menjadi penyebab perkawinan dini. Misalnya, orang tua meninggalkan anaknya menjadi buruh migran kemudian anak hanya diasuh kerabat sehingga kurang proteksi. Kemudian anak yang kurang perhatian ini pun melakukan pernikahan dini.

    Kholidi juga tidak menampik jika perkawinan usia dini bisa disebabkan faktor budaya. Dalam budaya Sasak, jika ada perempuan yang dibawa lari pria maka ini wajib dinikahkan. Karena jika ada anak perempuan dibawa lari tetapi tidak dinikahkan dinilai sebagai aib. ”Ada anak perempuan diantar pulang malam hari oleh laki-laki juga dianggap sebagai hal yang tabu. Sehingga anak perempuan tersebut harus dinikahkan dengan laki-laki tadi. Ini juga masih banyak ditemukan disini,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, Kholidi mengatakan untuk mencegah perkawinan dini ini juga diperlukan peraturan khusus. Untuk itu pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Lombok Utara merumuskan peraturan ini. ”Ini sudah kita pikirkan, nanti dengan Dinsos akan ada pembahasan,” tandasnya.

    Rangkaian kegiatan Harganas XXV pun sudah mulai dilakukan. Sebagai tuan rumah, Lombok Utara sudah menggelar lomba mewarnai dan parenting, Kamis (19/7). Acara ini diharapkan dapat meningkatkan peran orang tua dalam proses tumbuh kembang anak. Sekaligus meningkatkan wawasan kependudukan kepada anak sejak usia dini. Selain itu, kegiatan yang sudah digelar adalah parenting. Parenting dengan tema “Menjadi Orang Tua Hebat” ini menghadirkan dua narasumber. Yakni, Kabid Adpin Perwakilan BKKBN Provinsi NTB Samsul Anam dan Kak Wawan dari Kerajaan Dongeng

    Editor : Bayu


    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad