Header Ads

  • Breaking News

    Partai Gerindra akan Lakukan Evaluasi Internal Terkait Hasil Pilkada NTB.

    H. Bambang Kristiono Ketua BPD DPP Partai Gerindra

    Mataram - Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra, H. Bambang Kristiono, yang akrab disapa dengan sebutan mas BK, menegaskan akan melakukan evaluasi internal terhadap pengurus-pengurus dan kader-kader Partai Gerindra NTB di masing- masing tingkatan, baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota, terkait hasil Pilkada NTB yang dinilainya kurang memuaskan karena mesin Partai yang tidak berjalan secara maksimal karena masih adanya pengurus dan kader Partai Gerindra yang tidak bekerja maksimal, bahkan disinyalir telah membelot dan mendukung pasangan calon lain, diluar pasangan calon yang sudah ditetapkan oleh Partai Gerindra, Minggu (1/7).

    H. Bambang Kristiono sangat kecewa dengan sikap dan perilaku beberapa pengurus dan kader Partai yang dalam Pilkada 2015 yang lalu telah didorong dan dijadikan Wakil Bupati di beberapa Kabupaten, tapi kemudian tidak bisa mengawal dan mengamankan keputusan Partai yang telah menetapkan Ahyar - Mori sebagai pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur yg diusung Partai Gerindra.

    “Saya sangat kecewa dengan beberapa pengurus dan kader Partai Gerindra sendiri seperti Wabup KLU dan Wabup Loteng,yang tidak mengawal dan mengamankan keputusan Partai dengan bekerja maksimal memenangkan pasangan calon Ahyar - Mori, dan malah kami mendengar bahwa mereka berdua telah mendukung pasangan calon lain, diluar pasangan calon yang telah ditetapkan Partai Gerindra.Ini akan menjadi PR bagi kami dalam menentukan langkah-langkah kami kedepannya sehingga di masa yang akan datang, hal-hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi.Tentu saja Pilkada 2018 ini, selain pertaruhan juga akan menjadi sarana evaluasi khususnya dalam rangka menghadapi Pileg dan Pilpres yang akan datang,” akunya dengan nada kecewa.

    Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Lombok Utara, Sudirsah Sujanto menilai Partai pendukung Ahyar - Mori saat ini sangat kurang solid jika dibandingkan dengan kumpulan Partai yang mendukung Pilgub Jabar dan Jateng kemarin.

    "Faktor utamanya menurut saya karena kurang solidnya Partai yang mendukung Ahyar - Mori, dibandingkan dengan Pilgub Jabar dan Jateng yang nilainya jauh lebih solid dan menyatu dibandingkan di NTB sini. Ini berpengaruh besar sekali." ujar Sudirsah ketika dihubungi Seputar NTB, Minggu (1/7)

    Meski secara jumlah Partai yang mendukung Ahyar-Mori saat ini lebih banyak dari pasangan calon lainnya, tapi soliditas dan kerjasamanya kalah jauh dibanding partai-partai pendukung pasangan lain, dan terbukti mereka telah bekerja dengan lebih efektif.

    Ia mencontohkan hasil perhitungan cepat (Quick Count) pemilihan Gubernur Jawa Barat dan Jawa Tengah yang berkebalikan dengan proyeksi beberapa lembaga survei. Partai Gerindra dan Partai pendukung yang berkoalisi di dua wilayah tersebut menyiapkan strategi khusus untuk mendongkrak suara menjelang masa pencoblosan.

    "Baik di Jawa Barat maupun di Jawa Tengah strateginya sama, mesin politik bekerja siang malam, baik door to door maupun lewat media sosial menjelang masa pencoblosan", kata Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Lombok Utara tersebut

    Selain itu, Sudirsah juga menilai bahwa partai-partai besar yang mendukung Ahyar- Mori mengalami gejala over confident.
    Mereka terlalu percaya diri bahwa Ahyar- Mori akan menang dari tiga pasangan calon lainnya, sehingga lengah.

    Sikap terlalu percaya diri ini membuat partai-partai pendukung Ahyar - Mori mulai dari petinggi-petingginya hingga ke pengurus-pengurus cabangnya pada setengah hati dalam menggarap isu-isu yang berpotensi menjadi masalah. Apalagi, ada partai-partai yang memang tidak bisa menjamin suara di akar rumput kemudian diarahkan untuk memilih Ahyar - Mori.

    "Misalnya yang terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa, dimana dua kader PDIP menjadi Bupati di kedua Kabupaten tersebut, tapi suara Ahyar - Mori jeblok disana dan tidak sesuai dengan harapan", ujarnya.

    Sementata itu, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTB,Lalu Aksar Anshori dengan tegas mengatakan bahwa hasil hitung cepat atau Quick Count bukanlah penentu kemenangan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur di NTB.

    Hasil akhir yang akan menentukan kemenangan pasangan calon pada Pilkada serentak tahun ini adalah hasil rekapitulasi resmi KPU NTB yang akan diumumkan paling lambat tanggal 9 Juli 2018 mendatang.

    Ketua KPU NTB berharap semua pihak untuk bersabar dan tidak menentukan sendiri kemenangannya sebelum hasil perhitungan resmi dikeluarkan KPU NTB.
    Menurut dia, hasil Quick Count tidak bisa dijadikan rujukan atau acuan bahkan pegangan karena tidak bisa digunakan untuk menetapkan hasil Pilkada 2018 ini, apapun hasilnya.

    Editor : Bayu

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad