Header Ads

  • Breaking News

    H. Nasruddin Mengarahkan Para Pimpinan Gereja Agar Menghayati Imannya Secara Baik Dan Benar


    Mataram - Jika dibaca dokumen Gereja menegaskan bahwa kegiatan Gereja hendaknya melibatkan kaum awam dalam kerjasama untuk mewujudkan karya pastoral sehingga dibutuhkan kolegialitas antar sesama pemimpin pastoral dan partisipasi umat dengan adanya kerjasama serta kebersamaan baik dari para Klerus (pastor) maupun kaum awam untuk memberikan ruang dan kesempatan untuk berpastisipasi dalam semangat membangun Gereja.

    Berpastoral disini adalah menempatkan kepentingan umat karena berpastoral dan kaum awam keduanya ini yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup dan pertumbuhan Gereja, Dalam sebuah dogmatic Kristiani bahwa harus ada kerjasama berdayaguna antara kaum awam demi kemajuan umat Allah dan pertumbuhan Gereja di dunia. Nilai-nilai Injil dapat meresap secara konkrit melalui kaum awam dalam karyanya dalam teologi Katolik yang menyentuh kehidupan nyata umat Allah. Disini pentingnya sinergitas antara umat dengan pimpinan pastoral Gereja dan pemerintah, sehingga Kementerian Agama diharapkan untuk meningkatkan kualitas iman umat Katolik.

    Tujuan kegiatan pertemuan Dewan Pastoral Dekenat untuk meningkatkan peran pemimpin pastoral dalam mewujudkan pilihan politik yang bijak dan cerdas dan mempertajam program kerja Dewan Pastoral Dekenat NTB bersinergi dengan semua elemen masyarakat  untuk mewujudkan pilihan politik yang bijak dan cerdas demi NKRI.

    Peserta kegiatan ini berjumlah 30 (tiga puluh) orang terdiri dari Pastor 11 (sebelas) orang, Suster 5 (lima) orang, calon Pastor 2 (dua) orang dan Tokoh Umat 12 (dua belas) orang. Kegiatan dilaksanakan di Idop Hotel Mataram tanggal 1 sampai dengan 3 April 2019. Dihadiri oleh Kepala Bagian Tata Usaha H. Sirojudin, Pembimas Katolik, Pembimas Kristen, Pembimas Budha dan Kabid Hindu dalam laporan Ketua Paniti Egenius Siba.

    Dalam arahan dan sambutan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat H. Nasruddin disampaikan bahwa moderasi beragama diharapkan tidak tergelincir terhadap pemahaman ekstrim kiri dan kanan masyarakat yang beragam. Untuk hal ini diperlukan saluran-saluran yang memadai untuk meningkatkan keterpengaruhan yang dimulai dari pikiran, sikap dan tindakan.

    Terkait dengan moderasi beragama untuk mengelola kehidupan beragama pada masyarakat Indonesia yang plural multukultural, maka kebersamaan umat diperlukan sebagai jembatan terwujudnya kebersamaan dan hidup rukun antara elemen bangsa. Menurut Menteri Agama hal ini semakin diperlukan karena semakin muncul di permukaan, oleh karena itu  kebersamaan harus senantiasa diikat semua umat beragama.

    Selanjutnya H. Nasruddin berharap kepada para Tokoh Masyarakat, Romo, Suster agar umatnya  menghayati imannya secara baik dan benar, sebagai pengajar doktrin gereja pemersatu umatnya dalam kebersamaan memahami ajaran iman secara baik dan benar. Para Tokoh Agama, pemerintah dan Kementerian Agama selalu menjaga moderasi beragama untuk kedamaian, kesejukan dan persaudaraan serta kerukunan interen agama dan antar umat beragama. Kementerian Agama Provinsi NTB membangun kerukunan lintas agama, membangun Penyuluh Non PNS lintas agama untuk kedamaian dan kesejukan lintas agama. Selain itu mengadakan pula silaturrahm ke lintas agama, mengadakan silaturrahim ke Tokoh Agama pada hari raya keagamaan dan menghadiri undangan-undangan kegiatan lintas agama.

    Editor : Bayu adjie

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad