Header Ads

  • Breaking News

    Sistem Zonasi : Memutus Status Sekolah Favorit ?



    Oleh Dr. Lalu Sirajul Hadi, M. Pd
    Pegiat dan Pengamat Pendidikan

    KEBIJAKAN Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,tentang sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), cukup mendapatkan atensi dari berbagai pihak. Tentu,ada yang pro dan setuju,  tetapi juga ada yang kontra, dan tidak sedikit pula yang memberikan kritik terhadap sistem itu, karena problem sosialisasi, dan ruwetnya implementasi.

    Di sisi lain,  pemerintah, masyarakat dan juga sekolah, dituntut untuk harus memahami dan melaksanakan aturan, sesuai regulasi yang dibuat, karena sistem Zonasi dalam penjelasannya, dianggap memiliki konsep dan tujuan yang baik,paling tidak,berdasarkan versi pemerintah,dalam hal ini Kementerian Pendidikan.

    Melalui Permendikbud No. 51 Tahun 2018, tentang sistem zonasi dalam PPDB,  dimaksudkan sebagai upaya, dalam terwujudnya pemerataan pendidikan, serta terakomodirnya penduduk lokal untuk bersekolah pada satuan pendidikan atau sekolah, yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

    Sistem zonasi, pada praktiknya menjadi pilihan yang sulit, walaupun tujuannya adalah membantu dan mempermudah masyarakat dalam mengakses pendidikan.

    Sebagai contoh,  pada beberapa sekolah yang dalam sejarahnya, memiliki brand dan citra positif, serta reputasi sebagai sekolah favorit,  dengan segudang nama dan prestasi, dengan sistem zonasi-tidak lagi leluasa dan bebas, menerima input, dari kalangan calon siswa yang berpotensi dan berprestasi secara akademik. Dalam pengalaman selama ini,  banyak sekolah yang dengan mudah membuat program dan mendapatkan prestasi, karena input siswanya yang terpilih dan terseleksi, dalam jumlah (stok) yang banyak dan bahkan berlebihan (overload).

    Kondisi ini dalam sistem zonasi tidak berlaku lagi. Seperti apapun standar kemampuan calon siswa baru, dalam regulasinya, siswa yang berdomisili di area sekitar atau lingkungan sekolah (favorit) itu, harus diakomodir dengan persentase yang sangat besar, yakni 90% dari calon siswa yang berasal dari sekitar lingkungan sekolah. Sisanya adalah 10% dari jalur prestasi atau karena mengikuti kepindahan kependudukan orang tua siswa tersebut.

    Bagi sekolah-sekolah yang terlanjur menyandang sekolah favorit, ini dianggap sebuah masalah dan sekaligus juga tantangan. Bagaimanapun,  ini sama halnya dengan sekolah tersebut memiliki input mutu siswa yang limited atau terbatas. Hal ini bisa menjadi soal besar, dalam kasus kontinuitas pembinaan dan bimbingan, khususnya pada sekolah yang memiliki program, dengan orientasi-orientasi dan berburu prestasi. Di pihak lain, sekolah favorit,  pada akhirnya juga akan dapat dinikmati, walaupun oleh anak anak yang memiliki potensi dan kemampuan kurang, atau standar-standar saja. Kesimpulannya, dominasi sekolah favorit akan ternetralisir dan tereliminasi dominasinya, karena tidak lagi memiliki stok input siswa berprestasi yang banyak.

    Di sisi masyarakat selaku user atau pemanfaat pendidikan,memilih tempat pendidikan atau sekolah yang mutu dan favorit, bagi putra putrinya adalah sebuah keinginan, cita-cita dan gengsi. Secara umum,  publik sudah memiliki kemampuan yang cerdas, dalam menilai kualitas setiap sekolah. Bagi mereka, tak masalah jauhnya jarak tempuh, dan mahalnya biaya, yang penting bisa sekolah di tempat yang bagus dan favorit, inilah yang banyak terjadi selama ini. Artinya,  pilihan sekolah untuk melanjutkan studi, erat kaitannya dengan "trust and satisfaction" masyarakat.

    Bagaimana dengan sekolah swasta? Dalam konteks Ini, objek kajiannya berbeda.Tentu,  walaupun sekolah berstatus swasta,tetapi memiliki basis input yang loyal dan permanen, tidak akan menjadi masalah dan tidak khawatir dengan siswa baru, secara jumlah (kuantitas). Begitu juga sekolah swasta, yang memiliki kelebihan,keunggulan plus,  kekhasan,program yang genuine,menarik, unik,dan layanan pendidikan yang memuaskan user, memuaskan publik. Sekolah sejenis ini di manapun akan diburu masyarakat.Tetapi bagi sekolah swasta, yang hanya memiliki program konvensional, reguler, formalitas,tidak punya nilai jual, maka ini bisa menjadi warning, atau tanda tidak baik,  bagi survival dan eksistensinya.

    Zonasi pada hakikatnya hanyalah bagian yang sangat kecil,dari proses menemukan solusi, kompleksitas problem pendidikan dan mutu yang belum merata, di sekitar kita. Kebijakan yang tidak kalah urgen, dan yang tidak boleh luput uga adalah, pentingnya kebijakan tentang proporsi dan pola distribusi.Pertama, pentingnya distribusi dan sebaran guru yang memiliki kualitas dan profesionalitas merata, pada seluruh zona dan wilayah.Faktanya selama ini, guru-guru berkualitas baik, terbatas jumlahnya dan hanya menumpuk, tersentralisasi di satu wilayah saja. Kedua, proporsi ketersediaan infrastruktur sekolah atau lembaga pendidikan. Sekolah favorit selalu diidentikan dengan gelontoran proyek pembangunan fisik,dan pemenuhan sarana prasarana atau "dimanjakan". Sementara sekolah yang tidak memiliki merek dan label favorit, kondisi infrastruktur dan sarananya diabaikan.Ketiga,perlunya change experience bagi kepala sekolah satuan pendidikan, yang telah lama sukses membuat prestasi favorit, perlu diberikan "challenge" atau tantangan, untuk memimpin, mengelola, mengatur dan memprogramkan sekolah di tempat lain, yang sebelumnya tidak mutu atau tidak favorit, supaya bisa menjadi mutu dan favorit. Disinilah, pentingnya kebijakan kebijakan itu dipotret, secara utuh dan komprehensif.

    Dalam konteks analisis pendidikan tentang masalah masalah itu,masyarakat tidak sepenuhnya bisa disalahkan.Sebabnya yang mendasar adalah,lambannya pemerintah dalam menerapkan pemerataan mutu pendidikan,sehingga sebaran mutu pendidikan tersentralisasi dan tersumbat pada saluran yang belum berkeadilan.

    Wallahu'alam

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad