Header Ads

  • Breaking News

    Kasus Proyek Rusun SNVT PP NTB, “Fee” Jadi Tambahan Biaya Operasional

    Mantan Kepala SNVT PP NTB Balera terdakwa fee proyek Rusun dikawal keluar gedung Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram. 

    Mataram - Majelis hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram memeriksa terdakwa fee proyek Rusun Satuan Non Vertikal Penyediaan Perumahan NTB, Balera. Mantan Kepala SNVT PP NTB ini mengaku menerima uang dari rekanan proyek. Alasan yang diakuinya untuk membiayai operasional. Setoran ke pimpinan atau rekan kerja di instansi lain tidak terungkap. Balera menjalani sidang pemeriksaan terdakwa, Selasa, 3 Maret 2020.

    Dia dicecar soal aliran uang yang dimintanya dari rekanan pelaksana proyek Rusun. Dimulai dari uang Rp100 juta yang disetor saksi Eman, pelaksana proyek Rusun Ponpes Al-Kahfi Moyo, Sumbawa. Uang sejumlah itu merupakan realisasi dari permintaan Balera kepada Eman. Balera memang tidak pernah minta langsung. Tapi permintaan itu lewat bawahannya, Heru Sujarwo, pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek. “Awalnya saya kaget. Kebanyakan uangnya. Saya juga tidak tahu itu jumlahnya berapa,” kata Balera melalui penasihat hukumnya, Baharudin yang mendampingi di persidangan.

    Balera menerima uang dari Eman di ruang kerjanya, Rabu 25 September 2019. Sore itu dia baru pulang dari sowan ke kolega. Begitu sampai kantor, Eman langsung masuk dan menyerahkan uang di atas meja. Tak lama berselang, tim penyidik Polresta Mataram masuk menggerebek Balera. Uang dalam amplop coklat yang belakangan diketahui sejumlah Rp100 juta ikut disita. “Itu uang untuk menambah operasional saja. Untuk kegiatan Kepala Satker,” imbuhnya.

    Balera mengakui menerima uang itu. Meskipun begitu dia menampik bahwa dirinya yang menentukan besaran uang setoran. Bahkan, dia tidak pernah berhubungan langsung dengan Eman. Melainkan melalui Heru. “Tidak pernah minta langsung,” ucapnya. Demikian juga dengan dakwaan yang menyebut dirinya menerima duit dari rekanan lain. Saksi Heru sebelumnya mengatakan ada setoran Rp 50 juta dari Effendi, kontraktor PT Performa Trans Utama yang mengerjakan Rusun NTB 3 Ponpes Al-Madinah Bolo, Kabupaten Bima.

    Juga, penerimaan sebesar Rp100 juta dari Daeng, kontraktor CV Cinta Bahagia yang merupakan pelaksana proyek Rusun NTB 1 Ponpes Ulil Albab Montong Gading, Lombok Timur. “Saya tidak pernah mengatakan kepada siapa saja,” kata Balera singkat. Baharudin menambahkan, kliennya itu mengaku menyesal menerima uang tersebut. “Tidak pernah tentukan berapa persen fee. Memang saksinya sendiri yang mau bawa segitu,” kata Bahar.

    Sebelumnya, Balera didakwa meminta duit kepada kontraktor proyek Rusun Ponpes Al-Kahfi Sumbawa sebesar Rp100 juta. Duit itu bagian dari fee proyek. Terdakwa Balera meminta pelaksana pekerjaan memberikan uang fee atau uang administrasi. Fee diatur sebesar 5 persen dari nilai proyek. Pada tahun 2019, SNVT PP NTB mempunyai tiga paket proyek Rusun di NTB Diantaranya Rusun NTB 1 Ponpes Ulil Albab Montong Gading, Lombok Timur senilai Rp3,48 miliar yang dikerjakan CV Cinta Bahagia.

    Proyek Rusun NTB 3 Ponpes Al-Madinah Bolo, Kabupaten Bima senilai Rp2,35 miliar yang dikerjakan PT Performa Trans Utama. Serta proyek Rusun Ponpes Modern Al-Kahfi, Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa yang dikerjakan CV Jangkar Utama dengan nilai kontrak Rp3,47 miliar.

    Pewarta:Bayu
    Editor:Bayu Adjie

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad